Enam komoditas besar kita CPO, minyak bumi, gas, nikel, tembaga, dan batu bara wakili 42 persen ekspor RI. Ini nunjukin produk kita nggak kompleks. Nggak ada brand Indonesia yang terkenal global, paling Indomie, yang katanya bukan produk canggih.
Padahal tetangga kita punya merek keren kayak Razer, Petronas, AirAsia, Charles & Keith, sampai Singapore Airlines. Dari sisi akademik, universitas kita belum masuk top dunia, beda sama Singapura dan Malaysia.
Tapi, apakah Indonesia bisa jadi negara maju? Wijayanto bilang, potensinya ada, tapi jalannya nggak gampang.
“Jika pertanyaannya, apakah Indonesia bisa jadi negara maju? Jawabannya tentu saja ya,” kata Wijayanto.
“Tetapi kapan dan apakah kita ke arah yang benar? Jawabannya tidak terlalu menggembirakan,” sambung dia
Ia cerita, indikator nunjukin Indonesia malah turun di rantai pasok global. “Peran industri manufaktur terus menurun dari 30 persen PDB pada 2002 menjadi 18 persen saat ini. Ini yang disebut deindustrialisasi dini,” ujarnya.
Dari laporan Harvard Growth Lab, kemampuan kita bikin barang teknologi tinggi turun dari peringkat 54 di 2000 jadi 70 di 2023. Sementara Vietnam naik dari 94 ke 53.
Wijayanto tekankan, perlu perbaikan mendasar di SDM, teknologi industri, dan investasi asing berkualitas. Tapi, ini terhambat masalah klasik kayak kepastian hukum buruk, birokrasi jelek, kebijakan ribet, dan korupsi tinggi.
“Akankah Indonesia bisa menjadi negara maju? Jawabannya tergantung pada kita dan para pemimpin yang kita percaya,” tutur dia.






