Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekraf, Cecep Rukendi, menjelaskan bahwa fokus utama pelatihan adalah optimalisasi workflow.
“Pelatihan kali ini mencakup pemanfaatan Unreal Engine untuk proses pembuatan dan efisiensi workflow 3D animasi,” kata Cecep.
Transformasi dari Jasa Menjadi Pemilik IP
Industri animasi nasional saat ini tengah berada dalam fase transisi penting. Indonesia tidak lagi sekadar menjadi penyedia jasa pengerjaan teknis (outsource) bagi studio luar negeri, tetapi mulai bertransformasi menjadi pengembang Kekayaan Intelektual (Intellectual Property/IP) orisinal.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Animasi Indonesia (AINAKI), Eka Chandra, menilai pembaruan keterampilan (upskilling) adalah kunci untuk mempertahankan momentum ini.
Baca Juga: Menteri Ekraf Riefky Harsya di ELC 2026: Wirausaha Muda UGM Harus Adaptif dan Inovatif
“Pelatihan ini sangat krusial untuk memastikan talenta terus memperbarui keterampilan, terutama dalam proses produksi. Kolaborasi dan networking antar pelaku industri menjadi kunci dalam memperkuat ekosistem animasi nasional,” jelas Eka.
Sinergi antara pemerintah, AINAKI, dan pelaku industri seperti Brown Bag Films Bali diharapkan dapat melahirkan ekosistem kreatif yang mandiri.
Selain meningkatkan kapasitas teknis, para peserta didorong untuk membangun jejaring bisnis agar karya-karya orisinal Indonesia lebih mudah menembus pasar internasional. (*)





