Tak berhenti di situ, tanaman kayu putih dan kelapa yang tumbuh subur di area hotel juga dimanfaatkan secara optimal. Mereka memproduksi minyak kayu putih dan minyak kelapa sendiri.
Hasilnya? Produk ramah lingkungan yang digunakan kembali untuk operasional hotel hingga pemberdayaan masyarakat sekitar. Ini adalah contoh nyata bagaimana sebuah bisnis bisa beroperasi tanpa harus meninggalkan jejak karbon yang besar.
Baca Juga: Okupansi Hotel Lebaran 2025 Lebih Rendah Dibandingkan Tahun Lalu
Mengapa Ini Penting bagi Wisatawan Modern?
Bagi wisatawan yang semakin kritis terhadap isu perubahan iklim, memilih tempat menginap adalah sebuah pernyataan politik dan etika. General Manager Pullman Lombok, Budi Wahjono, menekankan bahwa kepemimpinan di era modern harus mampu menciptakan dampak jangka panjang yang berkelanjutan.
“Kami berkomitmen untuk terus menghadirkan pelayanan terbaik sekaligus inovasi keberlanjutan yang membawa manfaat bagi lingkungan dan komunitas lokal,” ujar Budi.
Di Mandalika, Pullman Lombok sedang membuktikan bahwa kemewahan dan kelestarian alam bisa berjalan beriringan. Mereka tidak hanya menjual pemandangan laut yang biru, tetapi juga memastikan bahwa laut dan tanah di sekitarnya tetap terjaga melalui praktik bisnis yang bertanggung jawab. (*)






