Serangan Kapal dan Gelombang Aksi Houthi
Kendati perundingan berjalan, ancaman keamanan di Selat Hormuz belum sepenuhnya mereda. Lembaga pemantau Lloyd’s List Intelligence mencatat sedikitnya dua kapal terkena serangan sepanjang pekan lalu. Beberapa kapal lain juga menerima peringatan dari pihak yang mengaku sebagai Garda Revolusi Iran.
Pada saat yang sama, kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah melancarkan serangan balasan di Laut Merah. Namun, otoritas independen belum memverifikasi klaim tersebut secara terpisah.
Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz sejatinya terus merangkak naik. Angkanya mencapai 84 pelintasan pada periode 27 Juli hingga 2 Agustus. Angka ini naik signifikan dari pekan sebelumnya yang hanya mencatat 45 pelintasan. Kendati demikian, volume ini masih jauh di bawah kondisi normal sebelum krisis yang mampu mencapai lebih dari 700 pelintasan per minggu.
Eskalasi Yaman dan Korban Militer di Lebanon
Situasi di daratan Yaman juga memanas. Milisi Houthi melancarkan serangan masif yang menewaskan sedikitnya 30 tentara pemerintah dan melukai 50 orang di Provinsi Marib dan Hadramout. Selain itu, serangan balasan ke wilayah Najran, Arab Saudi, mengakibatkan 10 warga sipil dari berbagai negara mengalami luka-luka. Aksi ini menjadi lonjakan pertempuran terbesar sejak gencatan senjata tahun 2022.
Sementara itu dari front Lebanon, militer Israel mengonfirmasi dua tentaranya tewas dan empat lainnya luka parah akibat ledakan di wilayah selatan. Insiden ini menandai kasus kematian pertama di pihak Israel sejak kesepakatan gencatan senjata dengan Hizbullah berlaku pada Juni.
“Perlu diperhatikan bahwa Crime Index Numbeo didasarkan pada persepsi yang disampaikan oleh para pengguna, sehingga hasilnya bisa berbeda dengan statistik kriminal resmi yang dikeluarkan pemerintah,” kata Numbeo.




