URBANCITY.CO.ID – PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) terus berupaya meningkatkan produksi minyak dan gas (migas) sebagai bagian dari komitmen menjaga ketahanan energi nasional.
Sebagai salah satu pilar utama produksi minyak Indonesia, PHR secara konsisten menerapkan terobosan teknologi dan inovasi untuk menjaga produksi, terutama di ladang-ladang migas yang sudah tua di Wilayah Kerja (WK) Rokan.
Selama Kunjungan Kerja Spesifik Komisi XII DPR RI ke WK Rokan, Riau, pada akhir pekan lalu, Direktur Utama PHR Muhamad Arifin menyatakan bahwa kontribusi PHR terhadap produksi minyak nasional saat ini sekitar 26 persen.
Sejak mengelola WK Rokan, PHR juga memberikan dampak ekonomi besar, dengan setoran PNBP dan pajak Rp149 triliun, serta dana Partisipasi Interes (PI) Rp4,3 triliun ke Pemerintah Provinsi Riau.
Baca Juga: Teknologi Migas i-TERM Besutan PHR Diganjar Penghargaan Internasional
Untuk menangani sumur tua, PHR tidak hanya mengandalkan pengeboran sumur tambahan. Perusahaan menerapkan teknologi seperti Enhanced Oil Recovery (EOR) dengan metode steamflood di Lapangan North Duri Development (NDD) A14.
Teknologi steamflood telah menjadi dasar produksi di Blok Rokan selama puluhan tahun, dan terus dikembangkan dengan inovasi lokal.
“Para pekerja PHR terus melakukan berbagai inovasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasi di tengah tantangan yang ada,” kata Arifin.
PHR juga mengembangkan teknologi Pengembangan Reservoir & Multi-Stage Fracturing (MSF). Inovasi ini, diterapkan di sumur MSF-1 di Kota Batak, menghasilkan produksi hingga 569 barel minyak per hari (BOPD), dan akan direplikasi ke 25 sumur baru pada 2026.




