URBANCITY.CO.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui keterlibatan militer dalam perang Iran memicu kekalahan partainya. Kekalahan Partai Republik terjadi dalam pemilihan umum paruh waktu pada Selasa kemarin.
Kemenangan telak ini membuka jalan bagi kubu oposisi, Partai Demokrat, menguasai Kongres Amerika Serikat. Partai Demokrat kini mengamankan kendali mayoritas di Dewan Perwakilan Rakyat maupun Senat.
Ancaman Hak Veto Menghadapi Dominasi Kongres
Kondisi politik baru ini menghadirkan ganjalan berat bagi kelanjutan agenda legislasi pemerintahan Trump. Dalam wawancara khusus dengan Fox News, Trump memperkirakan lawan politiknya akan mengajukan regulasi kontroversial.
Bahkan, Trump menegaskan kesiapannya menggugurkan setiap draf aturan usulan Demokrat.
Baca Juga :Â Xi Jinping Desak Damai di Timur Tengah dan Jamin Jalur Pasokan Energi Dunia
“Mereka akan mengirimkan hal-hal yang tidak masuk akal, dan saya akan memvetonya,” kata Trump.
Kendati demikian, Trump meyakini kebuntuan politik akibat veto kepresidenan tidak akan berlangsung selamanya. Ia memperkirakan kubu lawan pada akhirnya melunak dan membuka pintu kompromi.
“Setelah beberapa bulan menghadapi veto, mereka akan menelepon dan berkata, ‘Bagaimana kita bisa menyelesaikan hal-hal ini?’ Lalu, kita akan bekerja sama,” ujarnya.
Dampak Perang Iran Terhadap Suara Pemilih
Dalam perbincangan tersebut, Trump menyoroti isu perang Iran yang memberatkan langkah para kandidat Republik. Pasalnya, sentimen konflik bersenjata itu mengikis simpati pemilih di berbagai negara bagian kunci.
Meski demikian, Trump membela keputusan militernya terhadap Teheran sebagai langkah yang tepat.
“Saya pikir salah satu faktornya adalah Iran. Namun, pada saat yang sama, masyarakat memahami pentingnya apa yang telah saya lakukan terkait Iran,” kata Trump.
Pengakuan terbuka ini membuktikan gejolak perang Timur Tengah menjadi variabel penentu hasil pemilu AS. Namun, Trump berkeras rakyat Amerika Serikat tetap mendukung garis keras diplomasinya di kawasan Teluk.




