URBANCITY.CO.ID – Di balik masifnya pembangunan infrastruktur jalan di berbagai pelosok Indonesia, muncul persoalan mendasar mengenai keselarasan armada transportasi dengan kontur geografis.
Pengamat otomotif sekaligus Sekretaris Jenderal A Salvo Indonesia, Robby Ferliansyah, menyoroti dominasi kendaraan berpenggerak dua roda (4×2) yang dinilai kurang efisien untuk medan luar kota yang ekstrem.
Menurut Robby, kendaraan penggerak empat roda (4×4) seharusnya dipandang sebagai instrumen ekonomi, bukan sekadar barang hobi atau simbol status. Ia mendorong pemerintah untuk melakukan reposisi terhadap nalar penggunaan APBN dalam pengadaan kendaraan operasional daerah agar lebih tepat guna dan efisien.
“Kita perlu melihat kendaraan 4×4 dengan kacamata baru,” ujar Robby dengan nada tenang namun tajam. “Di daerah, medan jalan sangat variatif—mulai dari aspal, gravel, hingga perbukitan. Jika kita berkaca pada Thailand, kendaraan 4×4 sangat populer untuk niaga karena harganya masuk akal (reasonable). Di sana, 4×4 adalah mitra kerja, bukan simbol status.”
Baca Juga: IKM Otomotif Protes Rencana Impor Kendaraan KDKMP: Kami Mampu Pasok Dalam Negeri
Pajak dan Aksesibilitas Niaga
Satu di antara hambatan utama penggunaan kendaraan 4×4 di Indonesia adalah skema pajak yang tinggi. Hal ini membuat kendaraan tangguh tersebut terjebak dalam kategori barang mewah yang sulit dijangkau oleh pelaku niaga kecil di daerah.
A Salvo mendorong pemerintah melakukan kajian ulang pajak kendaraan 4×4. Logikanya, jika pajak diturunkan, distribusi logistik di daerah pelosok dapat berjalan lebih cepat dan biaya ekonomi tinggi akibat kerusakan kendaraan yang dipaksa melintasi medan berat dapat ditekan secara signifikan.




