“Ini menunjukkan bahwa secara headline growth, ekonomi Indonesia masih mencerminkan ketahanan (resilience) yang cukup kuat berbasis permintaan domestik,” jelas Shinta.
Baca Juga: Soal Ajakan Pengosongan Rekening, Kadin: Hanya akan Merugikan Masyarakat
Namun, di balik angka makro yang solid, dunia usaha mulai mencemaskan tekanan nilai tukar rupiah yang menyentuh Rp17.400 per dolar AS. Shinta mengingatkan adanya risiko margin compression atau tekanan biaya di tingkat mikro.
“Dunia usaha menghadapi situasi yang disebut sebagai asymmetric impact of growth, di mana pertumbuhan tetap terjadi, tetapi manfaatnya belum terdistribusi secara merata, sementara tekanan biaya meningkat,” pungkasnya. (*)






