Baca Juga: Jepang Kembangkan Bahan Bakar Alternatif dari Kayu dan Kertas untuk Saingi Mobil Listrik
Peluang ekspansi masih terbuka lebar seiring dengan tren global yang beralih ke kemasan ramah lingkungan (sustainable packaging).
Saat ini, produk berbasis kertas menguasai 31,8 persen pasar kemasan dunia. Sektor e-commerce serta industri makanan dan minuman menjadi motor utama penggerak permintaan kertas kemasan di masa depan.
Inovasi Serat Pisang hingga Limbah Sawit
Menghadapi tantangan bahan baku, industri kertas nasional mulai bergeser dari ketergantungan pada virgin pulp.
Putu mengungkapkan, inovasi kini diarahkan pada penggunaan serat alternatif yang melimpah di dalam negeri.
“Industri kertas nasional tidak hanya bertumpu pada virgin pulp dan kertas daur ulang, tetapi juga mulai mengembangkan serat alternatif seperti pisang, sereh wangi, tandan kosong kelapa sawit, dan kenaf,” tutur Putu dalam acara Halal Bihalal Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) di Jakarta.
Baca Juga: Dukung Net Zero Emission, Kemenperin Verifikasi Emisi Gas Rumah Kaca di PLTU Banjarsari
Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi menghadapi hambatan perdagangan internasional, seperti regulasi deforestasi Uni Eropa (EUDR) dan kebijakan tarif dari Amerika Serikat.
Kemenperin juga telah mewajibkan SNI untuk kertas kemasan pangan guna meningkatkan standar keamanan dan kepercayaan pasar global.
Membidik Pasar Rusia dan Eurasia
Sebagai langkah promosi, Kemenperin menargetkan perluasan pasar ke kawasan Eurasia. Indonesia dipastikan akan tampil sebagai Partner Country pada ajang INNOPROM 2026 di Rusia.






