URBANCITY.CO.ID – Akselerasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mentransformasi lanskap keuangan global sekaligus menjanjikan efisiensi baru bagi mobilitas transaksi dan portofolio investasi masyarakat perkotaan.
Mengantisipasi dinamika pasar digital yang bergerak cepat, bank sentral di kawasan Asia Pasifik merapatkan barisan guna memastikan ekosistem teknologi finansial tetap aman, likuid, dan menguntungkan bagi pelaku ekonomi.
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Ricky P. Gozali, menegaskan urgensi kolaborasi strategis antarnegara tersebut saat membuka Konferensi Tingkat Tinggi South East Asian Central Banks (SEACEN) di Bali, Indonesia, 5 Oktober 2026.
Menurutnya, kesiapan tata kelola AI menjadi fondasi penting dalam memperkuat daya tahan pasar modal maupun kemudahan transaksi harian konsumen urban.
Baca Juga:Â Luhut Andalkan Kecerdasan Buatan AI Urai Sengkarut Data Bansos dan Kredit UMKM
“AI menghadirkan tantangan yang perlu dihadapi secara bersama oleh berbagai negara,” tutur Ricky dikutip dari laman BI, Selasa, (6/10/2026).
3 Pilar Finansial Bank Sentral di Era AI
Guna menangkap potensi teknologi tanpa mengorbankan stabilitas moneter, Ricky merumuskan tiga agenda prioritas bank sentral.
Prioritas pertama mencakup pembentukan tata kelola AI yang terpercaya, transparan, dan akuntabel guna melindungi aset publik.
Baca Juga:Â Proyek Data Center AI di Jatiluhur Disorot, Pakar Ingatkan Risiko Sedot Pasokan Air
Kedua, bank sentral memaksimalkan integrasi AI untuk menciptakan infrastruktur sistem pembayaran modern yang jauh lebih efisien, aman, inklusif, serta berdaya tahan tinggi.
Ketiga, otoritas memacu kemitraan regional lintas negara lewat kerangka SEACEN melalui dialog kebijakan, penguatan kapasitas regulator, dan riset gabungan.
“AI menghadirkan tantangan yang tidak dapat dihadapi satu negara sendiri. Melalui kolaborasi di kawasan, seperti SEACEN, kita dapat mengembangkan pendekatan bersama yang mendorong inovasi sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan,” tegas Ricky.
Ricky menilai transfer pengetahuan regional memegang peran kunci dalam menavigasi disrupsi teknologi terkini. “Seiring dengan semakin cepatnya transformasi teknologi, pengetahuan dan pengalaman bersama akan semakin berharga dalam membentuk masa depan bank sentral,” ujar Ricky.
Baca Juga:Â Telkom Dorong Kolaborasi Kampus: Amankan AI dan Siber Era Kuantum
Peluang Investasi & Kemudahan Transaksi Lintas Batas
Konektivitas sistem pembayaran lintas negara menawarkan efisiensi nyata bagi pelaku bisnis perkotaan, investor ritel, hingga ekspatriat yang membutuhkan transaksi valuta cepat dan berbiaya rendah.
Direktur Eksekutif The SEACEN Centre, Cynyoung Park, menyoroti urgensi interoperabilitas pembayaran regional demi mempercepat integrasi pasar keuangan Asia.
Standardisasi protokol transaksi, sinkronisasi aturan perbankan, serta tata kelola likuiditas yang solid membuka keran arus modal baru bagi sektor perdagangan dan instrumen investasi modern.
Baca Juga:Â Investasi SDM Muda Jadi Kunci Daya Saing dan Tren Kepemimpinan Masa Depan
Sementara itu, Kepala Ekonom United Nations Development Programme (UNDP) untuk Asia dan Pasifik, Philip Schellekens, mengingatkan faktor kepercayaan (trust) sebagai modal utama perbankan di tengah maraknya pemanfaatan AI.
Menurut Philip, bank sentral wajib memetakan dampak disrupsi AI secara presisi seraya memitigasi risiko sistemik akibat ketergantungan infrastruktur pada vendor teknologi raksasa tertentu, sehingga stabilitas aset nasabah tetap terlindungi secara berkelanjutan.
Konferensi bertajuk “Central Banking in the Age of Artificial Intelligence: Payments, Regulation, and Financial Stability for a Connected Asia” ini menghadirkan diskursus strategis lintas institusi moneter dunia.
Sejumlah perwakilan bergengsi turut membedah masa depan teknologi perbankan, antara lain European Central Bank, Bank of Korea, Hong Kong Monetary Authority, Banque de France, Asian Development Bank Institute, University of Tokyo, Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial (KORIKA), serta Bank Rakyat Indonesia.
Baca Juga:Â Vokasi Kemenperin Tembus Global: Cetak Talenta AI Industri Unggulan
Perkuat Daya Saing Tata Kelola Keuangan Kawasan
Menutup agenda KTT, Ricky memimpin 25th SEACEN Executive Committee (EXCO) Meeting pada 6 Oktober 2026 guna memperkokoh struktur internal kelembagaan SEACEN sebagai pusat riset unggulan.
Penguatan institusional ini memberi kepastian bagi iklim investasi regional agar tetap adaptif menghadapi gejolak ekonomi digital.
“Penguatan tata kelola, efektivitas organisasi, dan akuntabilitas menjadi landasan penting agar kolaborasi melalui SEACEN terus memberikan nilai tambah bagi anggotanya,” ujar Ricky.
Baca Juga:Â Pemerintah Siapkan Peta Jalan AI Nasional, Perkuat Ekosistem Ekonomi Kreatif di Kawasan
Melalui langkah proaktif ini, Bank Indonesia terus mengawal terciptanya ekosistem pembayaran dan investasi digital yang modern, aman dari ancaman kejahatan siber berbasis AI, serta ramah bagi gaya hidup finansial masyarakat perkotaan.




