URBANCITY.CO.ID – Ketegangan melanda ruang kendali utama atau Operational Command Center (OCC) PHR di Rumbai, Riau, pada Jumat sore, 23 Januari lalu. Deretan alarm menyala di layar monitor, menandai gangguan serius pada sistem pasokan energi.
Saat langit Riau mulai gelap, para insinyur dan operator di OCC menghadapi malam kerja panjang. Informasi gangguan datang bertubi-tubi: pasokan gas dari pipa transmisi milik pihak ketiga (TGI), sumber utama pembangkit listrik di Blok Rokan, bermasalah. Tekanan gas turun drastis, mengancam produksi energi nasional.
Salah satu Power Dispatcher senior PHR yang bertugas saat insiden itu mengatakan, dirinya kala itu tengah berpacu dengan detik.
“Jika listrik padam total (blackout), dampaknya bukan hanya mesin mati, tapi ribuan sumur minyak bisa mengalami pembekuan (congeal) dan butuh waktu berbulan-bulan untuk memulihkannya. Itu skenario terburuk yang harus kami cegah dengan cara apapun,” ujarnya.
Baca Juga: PHR Resmikan Substation Pematang, Dukung Peningkatan Produksi Migas
Begitu aliran gas terhenti, Incident Management Team (IMT) PHR langsung aktifkan prosedur darurat. Tim eksekusi manuver teknis berisiko tinggi bernama Fuel Switching: alihkan bahan bakar turbin gas utama dari gas ke bahan bakar cair seperti solar.
Para pekerja, yang disebut “Penjaga Energi”, bekerja manual di malam hari untuk jaga turbin tetap beroperasi.
“Tidak ada yang tidur. Tim di lapangan bekerja dalam shift ketat 24 jam. Kami berjibaku dengan katup, panel kontrol, dan koordinasi tanpa henti. Fokus kami cuma satu: Jangan sampai operasi negara ini berhenti,” ungkap salah satu operator di fasilitas pembangkit listrik Minas.




