Untuk memuluskan langkah tersebut, BNI menerapkan strategi komprehensif di berbagai lini:
Baca juga:Â Idul Adha 2026: BNI Distribusikan 1.200 Hewan Kurban ke Berbagai Wilayah Indonesia
1. Penyaringan Debitur Ketat: Proses penilaian modal diselaraskan dengan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI), utamanya di sektor energi, konstruksi, logistik, dan perkebunan.
2. Pendanaan Berwawasan Lingkungan: Memperluas pembiayaan hijau lewat skema Sustainability Linked Loan (SLL) serta kelanjutan penerbitan Sustainability Bond.
3. Inovasi Panduan Sawit: Meluncurkan *advisory playbook* pertama di Indonesia untuk sektor Perkebunan Kelapa Sawit guna mendampingi debitur bermigrasi ke arah ekonomi rendah karbon.
Tak hanya menyasar korporasi kakap, BNI turut menularkan virus ramah lingkungan ke sektor akar rumput.
Lewat program Jejak Kopi Khatulistiwa (JKK) dan BNI UMKM Ramah Lingkungan (BUMI), para pelaku usaha mikro dibina untuk menerapkan proses produksi hijau berorientasi ekspor demi mengerek daya saing di pasar global.
Baca juga:Â Libur Idul Adha 2026, BNI Siapkan Operasional Terbatas dan Layanan Digital 24 Jam
Budaya Zero Waste hingga Hidupkan Hutan Kritis
Di ranah operasional, BNI menerapkan prinsip *Zero Waste to Landfill*. Di Gedung Kantor Pusat BNI, 100 persen limbah kantor kini habis diolah melalui proses daur ulang. Budaya kerja digital juga digenjot untuk memangkas penggunaan kertas dan menghemat energi secara masif.
Lebih dari itu, pilar kepedulian lingkungan BNI menyentuh langsung denyut nadi masyarakat. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BNI Berbagi, perseroan konsisten menghidupkan kembali lahan kritis di kawasan Hutan Organik Megamendung, Kabupaten Bogor, sejak tahun 2018.




