2. Xi Jinping Desak Gedung Putih Waspadai Batas Merah Isu Taiwan
Dalam meja perundingan, Presiden Xi Jinping kembali menegaskan kedaulatan Beijing atas Taiwan. Berdasarkan laporan kantor berita Xinhua, Xi meminta pemerintah AS bersikap lebih bijak.
“China berharap AS akan menangani masalah Taiwan dengan hati-hati untuk meletakkan dasar yang kokoh bagi kerja sama strategis bilateral dan perkembangan hubungan China-AS,” tulis Xinhua.
Selain itu, laporan tersebut mengungkap desakan keras Xi kepada Washington. Ia menuntut AS secara terbuka menolak kemerdekaan Taiwan. Tuntutan ini jelas lebih tegas daripada sikap diplomasi AS yang selama ini hanya tidak mendukung kemerdekaan.
Namun, hukum domestik AS tetap mewajibkan Gedung Putih memasok alutsista untuk Taipei. Karena itu, pernyataan Trump pada Mei lalu sempat menuai polemik. Pasalnya, Trump menyebut paket senjata Taiwan senilai 14 miliar dollar AS sebagai kartu negosiasi.
3. Peringatan Risiko Perang ‘Jebakan Thucydides’
Selanjutnya, Xi Jinping mengangkat konsep akademis Thucydides Trap di depan Trump. Konsep tersebut memperingatkan bahwa gesekan kekuatan dominan lama dengan hegemoni baru rentan memicu perang terbuka.
Kendati demikian, Xi menilai potensi konflik bersenjata itu sebenarnya “dapat diatasi.” Oleh sebab itu, ia mengusulkan pembentukan saluran komunikasi militer serta protokol pencegahan krisis.
Sebaliknya, Donald Trump memilih mengangkat memori aliansi historis kedua negara. Ia menyinggung kerja sama AS dan Cina saat melawan Jepang pada era Perang Dunia II.




