Risiko Kehilangan Akses Modal Internasional
The Straits Times turut menyoroti risiko kehilangan status pasar berkembang bagi Indonesia. Media Singapura ini menerbitkan laporan bertajuk “‘Panic’ selling hits Indonesian markets on MSCI expulsion threat”. The Straits Times memperingatkan penurunan klasifikasi berisiko memutus aliran modal internasional ke Indonesia.
Tak hanya itu, keputusan tersebut dapat menyejajarkan Indonesia dengan Lebanon dan Zimbabwe. Analis S&P Global Ratings Rain Lin mencemaskan penurunan kepercayaan investor terhadap pasar obligasi pemerintah. Sementara itu, Goldman Sachs menaksir arus keluar modal pasif berpotensi mencapai 5,6 miliar dollar AS.
Investor asing sendiri telah mencatatkan penjualan bersih saham sebesar 4,88 miliar dollar AS sepanjang 2026. Arus modal keluar ini berpotensi menjadi yang terbesar dalam kurun 16 tahun terakhir. Kendati demikian, otoritas pasar wajib membuktikan pembenahan transparansi perdagangan secara konsisten.
Tekanan Menjalar ke Rupiah dan Pasar Obligasi
Channel News Asia mengangkat risiko kejatuhan saham terhadap rupiah dan pasar obligasi. Media tersebut merilis laporan berjudul “Indonesian stocks slide to six-year low as MSCI warning weighs”. CNA memaparkan kekhawatiran pelaku pasar atas rembetan gejolak bursa ke sektor perekonomian riil.
Portofolio Manajer Allspring Global Investments Gary Tan menyampaikan kekhawatiran utamanya.
“Kekhawatiran terbesar kami bukanlah aksi jual terkait indeks itu sendiri, tetapi potensi dampak jangka pendek terhadap rupiah dan imbal hasil obligasi domestik, di mana dislokasi pasar dapat menyebabkan kondisi keuangan yang lebih ketat dan dampak yang lebih signifikan pada ekonomi riil,” kata Tan.
Tekanan pasar keuangan kian nyata seiring pelemahan rupiah ke level Rp 18.040 per dollar AS. Posisi kurs ini mendekati rekor terendah Rp 18.190 per dollar AS pada Juni 2026. Adapun Kepala Strategi Makro BNY Investments Aninda Mitra menilai ruang penurunan lanjutan mulai terbatas. Namun, pelemahan rupiah dan lonjakan imbal hasil obligasi tetap mengancam stabilitas likuiditas domestik.




