Kemenperin menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan kendaraan operasional melalui produksi lokal adalah kunci penyerapan tenaga kerja dan penguatan struktur manufaktur nasional.
Baca Juga: IKM Furnitur Jogja Ekspor ke Eropa: CV Kayu Manis Kirim 6 Kontainer Mebel ke Spanyol dan Prancis
Rekam Jejak IKM dan Sinergi AMMDes
Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin mengklaim IKM binaannya, termasuk anggota PIKKO yang berjumlah 110 perusahaan, sudah sangat mumpuni. Mereka merupakan pemasok tier 2 dan 3 yang menyuplai komponen berbahan logam, plastik, karet, hingga interior untuk merek-merek besar (OEM).
Keberhasilan pengembangan Alat Mekanis Multiguna Perdesaan (AMMDes) pada 2018 menjadi bukti nyata kemampuan IKM lokal dalam membangun kendaraan niaga. Saat itu, IKM dari PIKKO dan klaster Tegal terlibat langsung dalam rantai pasok produksi kendaraan tersebut.
Mendesak Pembatasan Impor
Di tengah situasi pasar otomotif yang belum sepenuhnya pulih, PIKKO mendesak pemerintah untuk bersikap tegas. Rosalina menekankan bahwa meski kebutuhan kendaraan operasional KDKMP bersifat mendesak, pengadaannya harus tetap memprioritaskan produk lokal.
“Harapan dari PIKKO supaya adanya perhatian dari Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian untuk melakukan pembatasan jumlah kendaraan yang diimpor dari India, dan memberikan kesempatan kepada produsen lokal kendaraan bermotor menjadi pemasok kebutuhan kendaraan operasional KDKMP,” pungkas Rosalina.
Baca Juga: Dorong Industri IKM, Kemenperin Resmikan Sentra Fesyen di Bintan






