Menurut Meutya, fasilitas tersebut saat ini masih dalam tahap pembangunan dan ditargetkan diresmikan pada Desember 2026.
Keberadaan fasilitas manufaktur GPU diharapkan dapat melengkapi pengembangan ekosistem AI Indonesia, mulai dari infrastruktur komputasi hingga industri pendukung.
Meutya mengatakan Indonesia memiliki sejumlah modal untuk berkembang menjadi pusat infrastruktur AI di kawasan.
Selain kemampuan membangun infrastruktur berskala besar, Indonesia memiliki dukungan sumber energi, pasar domestik lebih dari 280 juta penduduk, serta kebijakan pemerintah yang mendorong transformasi digital dan pengembangan talenta digital.
“Ketika infrastruktur, pasar, talenta, dan kebijakan berjalan beriringan, Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk menjadi salah satu pusat pengembangan AI di kawasan,” kata Meutya.
Pemerintah, lanjut dia, akan terus menjaga iklim investasi untuk mendukung pengembangan teknologi AI sekaligus memastikan pemanfaatannya berlangsung secara bertanggung jawab dan inklusif.
Investasi tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan teknologi regional, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional.




