Pada tahun 2024, CAA telah merealisasikan investasi sebesar Rp1,26 triliun untuk pembangunan Pabrik CA-EDC, dengan total rencana investasi mencapai Rp15 triliun. Proyek ini termasuk dalam Proyek Strategis Nasional RPJMN 2025 – 2029 sesuai Perpres No.12/2025.
“Dalam proyeksi 20 tahun ke depan, terhitung sejak kuartal pertama tahun 2027 saat CAA mulai beroperasi penuh, produk soda kostik yang diimpor akan disubstitusi domestik sebesar 827 ribu ton liquid per tahun atau nilainya setara Rp4,9 triliun per tahun,” sebut Edi.
Dengan pasar EDC yang sudah memenuhi kebutuhan nasional, target pasar EDC dari CA-EDC adalah 100 persen ekspor, yang berpotensi menambah devisa negara melalui ekspor EDC senilai Rp5 triliun per tahun.
Perusahaan berharap adanya kemudahan izin impor garam industri untuk bahan baku Pabrik Chlor Alkali, serta dukungan infrastruktur dan perlindungan pasar dalam negeri. “Di tengah tantangan yang dihadapi, perusahaan juga mengapresiasi insentif-insentif dari pemerintah untuk proyek CA-EDC ini seperti fasilitas tax holiday dan tax allowance,” tandasnya.
Baca Juga: Kemenperin Tingkatkan SDM Industri Alas Kaki Berdaya Saing Global
Edi optimistis, proyek CA-EDC ini akan memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia, khususnya dalam pengembangan industri kimia nasional, sehingga dapat mewujudkan program Asta Cita dan mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen.
Ahmad Heri Firdaus, peneliti INDEF, menambahkan bahwa Pabrik CA-EDC akan memberikan multiplier effect bagi industri baterai listrik nasional. “Jadi kalau kami melihatnya, peran Indonesia dalam rantai suplai global EV itu semakin besar salah satunya dengan menjaga kemandirian produksi kaustik soda,” ujarnya.






