4. Bisnis dan Manajemen
Sementara itu, jurusan Bisnis dan Manajemen mencatat tingkat serapan sebesar 47,61 persen. Meskipun tidak lagi mendominasi seperti pada masa lalu, jurusan ini tetap diminati karena sifatnya yang fleksibel dan dibutuhkan di berbagai sektor usaha.
Prof. Waras Kamdi menegaskan bahwa program keahlian dengan serapan rendah kini semakin ditinggalkan oleh calon siswa.
“Program keahlian di SMK yang ramai peminat tapi serapan kerjanya rendah tampaknya sudah menjadi fenomena masa lalu,” katanya.
Beliau menyimpulkan bahwa naik-turunnya minat terhadap jurusan SMK sangat dipengaruhi oleh kesadaran masyarakat terhadap peluang kerja nyata.
“Mulai kelihatan bahwa tren peminatan program keahlian di SMK sangat dipengaruhi oleh pemahaman masyarakat terhadap perkembangan serapan dunia kerja,” terang Waras.
Lebih lanjut, Prof. Waras juga mengungkapkan bahwa kewirausahaan kian menjadi pilihan nyata bagi lulusan SMK. Merujuk pada data tracer study Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), rata-rata 23,64 persen lulusan SMK secara nasional memilih berwirausaha setelah menamatkan pendidikan.
Menurut beliau, jalur wirausaha paling banyak ditempuh lulusan dari bidang Agribisnis dan Agroindustri, Teknologi dan Rekayasa, Pariwisata, Bisnis dan Manajemen, serta Kemaritiman.
Meskipun demikian, Prof. Waras menilai potensi ini belum sepenuhnya dioptimalkan oleh satuan pendidikan.
“Kesetengah-hatian SMK mendorong ke zona kewirausahaan itu mungkin karena pengaruh teori Prosser yang sangat dominan dalam praktik pendidikan vokasional kita selama ini,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendidikan kewirausahaan masih kerap diposisikan sebagai jalur alternatif, bukan arus utama dalam pendidikan vokasi.
“Penguatan pendidikan kewirausahaan sebagai alternatif skenario pendidikan vokasional masih dijalankan setengah hati,” kata Waras.
Padahal, menurutnya, kewirausahaan memiliki peran strategis dalam menekan angka pengangguran lulusan. Prof. Waras menekankan bahwa minat berwirausaha sesungguhnya telah tumbuh kuat di kalangan generasi muda, merujuk pada survei IDN Research Institute tahun 2019 yang menunjukkan tujuh dari sepuluh milenial Indonesia memiliki keinginan memulai bisnis.
“Ada kekuatan dari dalam, ada kemandirian, pada anak-anak muda Indonesia,” ujarnya.
Baca Juga :Â Bidang Studi yang Kurang Relevan di Era 2026 Menurut Pakar
Oleh karena itu, beliau mendorong agar arah pendidikan lebih menyesuaikan kebutuhan generasi muda dengan memperkuat ekosistem kewirausahaan.
“Pendidikan mestinya mengayun pendulum ke arah pemenuhan kebutuhan belajar anak-anak milenial dengan penguatan kewirausahaan ini,” kata Waras.
Ia menegaskan, membangun masyarakat lapis kreatif dan mandiri dapat dimulai dari sektor informal dan UMKM.
“Tidak apa dimulai dari UMKM, karena pada saatnya akan tumbuh wirausahawan besar dari barisan masyarakat lapis kreatif dan mandiri ini,” pungkasnya.






