Selain kualitas, Pemerintah Kabupaten Majalengka mendorong para perajin membentuk koperasi. Skema kolektif ini diharapkan mampu menghimpun produksi dari banyak bengkel kecil untuk memenuhi pesanan skala besar dengan kualitas yang konsisten.
Haji Juanda, salah satu pengrajin, optimistis industri yang sudah ada sejak 1957 ini bisa kembali berjaya. “Genteng Jatiwangi ini tahan lama, bisa di atas 30 tahun, lebih mengkilap, dan rumah terasa lebih adem. Memang masih ada tantangan terkait sertifikasi SNI, tapi kami berkomitmen untuk mengurusnya bersama melalui koperasi,” tuturnya.
Baca Juga: Wisma Arunika: Kementerian PKP Bangun Rumah Susun Prajurit TNI AL di Jawa Timur
Injeksi Modal Lewat KUR Perumahan
Kebangkitan Jatiwangi juga didukung oleh sektor perbankan. Bank Rakyat Indonesia (BRI) menyatakan kesiapannya mengucurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan bagi para perajin.
Suntikan modal ini diharapkan dapat digunakan untuk peningkatan teknologi produksi dan pengadaan bahan baku yang lebih efisien.
Dengan kapasitas produksi mencapai satu juta genteng per hari dari seluruh pengrajin aktif, Jatiwangi diproyeksikan menjadi tulang punggung material perumahan nasional.
Langkah ini tidak hanya bertujuan mempercantik atap rumah rakyat, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan di Kabupaten Majalengka pascapandemi. (*)






