URBANCITY.CO.ID – Kementerian Perdagangan terus memperkuat peran Sistem Resi Gudang (SRG) sebagai ujung tombak penguatan ekspor komoditas unggulan daerah.
Hal ini ditandai dengan pelepasan ekspor 75 ton rumput laut jenis Eucheuma cottonii senilai USD 100.215 atau sekitar Rp1,7 miliar dari Gudang SRG PT Asia Sejahtera Mina di Maros, Sulawesi Selatan, Rabu, 4 Maret 2026.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa SRG bukan sekadar instrumen tunda jual untuk menjaga stabilitas harga di tingkat petani, melainkan juga kunci pembuka akses pasar internasional.
Rumput laut hasil produksi nelayan lokal ini ditargetkan memenuhi permintaan pasar Tiongkok yang terus meningkat.
“Kementerian Perdagangan memperluas akses pasar internasional melalui sinergi dengan pemerintah daerah, lembaga pembiayaan, pengelola gudang SRG, dan eksportir,” ujar Budi Santoso dalam keterangannya.
Baca Juga: Kemendag: Harga Referensi CPO Maret 2026 Naik ke USD 938,87, Harga Biji Kakao Anjlok 29 Persen
Integrasi dengan Program Desa BISA Ekspor
Pemerintah tengah menyiapakan skema integrasi antara SRG dengan program unggulan “Desa BISA Ekspor” (DBE). Program ini dirancang untuk memperkuat ekosistem ekspor di level pedesaan melalui enam pilar strategi, mulai dari penguatan SDM hingga promosi dan akses pasar.
Mendag yang akrab disapa Busan ini menjelaskan, melalui program tersebut, produk unggulan desa seperti rumput laut dapat disimpan di gudang SRG dan dijual saat harga pasar menguntungkan.
Promosi komoditas yang disimpan di SRG juga akan dibantu secara masif oleh jaringan Atase Perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) di 33 negara.




