URBANCITY.CO.ID – Tren pelesir masyarakat perkotaan kini mengalami pergeseran tajam ke arah wellness tourism dan eksplorasi kuliner autentik pedesaan.
Guna menangkap peluang pasar premium ini, Kementerian Pariwisata bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan memperluas kolaborasi strategis demi meningkatkan standar higienitas serta keamanan pangan di ribuan destinasi lokal.
Integrasi program Desa Pangan Aman BPOM ke dalam ekosistem Desa Wisata Kemenpar langsung mengerek nilai jual destinasi, memitigasi risiko kesehatan pelancong, serta membuka keran investasi bagi pelaku UMKM daerah.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menegaskan bahwa jaminan mutu konsumsi memegang peranan krusial dalam mengonversi kunjungan pelancong menjadi pertumbuhan ekonomi riil.
Baca Juga:Â Kemenpar Pacu Peluang Investasi Wisata Urban Lewat Program WISH 2026
“Kegiatan ini merupakan wujud nyata tindak lanjut kerja sama antara Kementerian Pariwisata dan BPOM. Sinergi ini menjadi langkah strategis agar keamanan pangan menjadi bagian tak terpisahkan dari layanan pariwisata, sehingga desa wisata tidak hanya menarik untuk dikunjungi, tetapi juga aman untuk dinikmati,” kata Menteri Pariwisata.
Standar Keamanan Pangan Kerek Daya Saing Investasi Desa
Konsumen kelas menengah atas perkotaan senantiasa menuntut kepastian mutu pada setiap produk olahan lokal yang mereka konsumsi selama berlibur.
Kepastian higienitas tersebut otomatis mendongkrak valuasi produk kuliner lokal sehingga mampu menarik pemodal swasta masuk mengembangkan rantai pasok kuliner desa.
Baca Juga:Â Bidik Pasar Australia, Kemenpar Pacu Wisata Edukasi Jakarta
Sinergi lintas lembaga ini merespons langsung kebutuhan pasar modern yang mendambakan kenyamanan holistik saat melepas penat dari hiruk-pikuk kota besar.
“Oleh karena itu, keamanan pangan menjadi aspek penting yang harus kita jaga bersama untuk memastikan setiap pengalaman wisata berlangsung aman, nyaman, dan berkualitas,” kata Menteri Pariwisata.
Data Jejaring Desa Wisata mencatat lebih dari 6.300 desa wisata aktif di seluruh penjuru Tanah Air. Potensi basis ekonomi masif ini membutuhkan sertifikasi serta pendampingan ketat agar setiap gerai kuliner tradisional mampu naik kelas menjadi komoditas bernilai tambah tinggi.
Kolaborasi antarlembaga ini mengarahkan desa wisata agar tidak sekadar menjual panorama alam, melainkan menawarkan ekosistem konsumsi yang teruji secara klinis.
Baca Juga:Â Investasi Wisata Mewah Yogyakarta: Kemenpar Bidik Pasar Premium Singapura
“Inilah esensi sinergi yang kita dorong, memastikan desa wisata tidak hanya menjadi destinasi yang menarik untuk dikunjungi, tetapi juga menjadi ruang hidup yang sehat, produktif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kami berharap model ini dapat direplikasi di desa wisata lain di seluruh Indonesia,” kata Menteri Pariwisata Widiyanti.
Transformasi BPOM Dorong Kualitas Produk UMKM Lokal
Kepala BPOM Taruna Ikrar menempatkan edukasi preventif sebagai pilar utama dalam membangun ekosistem pariwisata yang resilien dan menguntungkan.
Standarisasi olahan pangan melindungi para wisatawan dari ancaman kontaminasi, sekaligus melipatgandakan kepercayaan konsumen urban terhadap produk cenderamata pangan Nusantara. BPOM memosisikan perannya sebagai mitra akselerator bisnis bagi para produsen lokal di sentra wisata.
Baca Juga:Â Kemenpar Pacu Digital Leadership Demi Akselerasi Tourism 5.0
“Padahal tupoksi kami bukan hanya penindakan, tapi mulai dari edukasi, membimbing, asistensi, pendampingan, dan sebagainya. Fungsi penindakan itu cuma sekitar 10 persen,” kata Taruna.
Langkah pendampingan teknis ini memastikan rantai produksi kuliner desa sanggup memenuhi tolok ukur higienitas modern tanpa mematikan keaslian cita rasa warisan leluhur.
Standardisasi mutu ini menjadi jaminan utama bagi para investor yang ingin menyalurkan permodalan ke sektor agrowisata dan sentra oleh-oleh lokal.
Peningkatan kompetensi warga desa secara langsung mengamankan portofolio pariwisata nasional menuju industri yang berdaya saing global dan berkesinambungan.




