URBANCITY.CO.ID – Gaya hidup masyarakat urban masa kini menempatkan cokelat artisan dan sajian kafe premium sebagai simbol relaksasi berkelas.
Di balik tren konsumsi tersebut, potensi cuan komoditas kakao terus memikat minat para investor yang membidik sektor hilirisasi bernilai tambah tinggi.
Menjawab lonjakan kebutuhan pasar modern, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) langsung tancap gas mencetak 100 tenaga ahli melalui Program Cocoa Doctor demi mengamankan mutu bahan baku nasional dari hulu hingga hilir.
Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menegaskan bahwa akselerasi ekosistem kakao menuntut langkah kolektif dari seluruh pemangku kepentingan.
Baca Juga: Peluang Investasi Cokelat Premium saat RI Genjot Peremajaan Kakao
“Penguatan industri kakao tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi lintas sektor untuk menjawab berbagai tantangan, mulai dari peningkatan produktivitas dan kualitas bahan baku, penguatan kapasitas sumber daya manusia, penerapan prinsip keberlanjutan, hingga peningkatan daya saing industri pengolahan dan produk kakao nasional,” ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Senin (19/10).
Peluang Investasi Hijau dan Mutu Bahan Baku Premium
Kemenperin menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Mendorong Produktivitas, Keberlanjutan, dan Daya Saing Industri Kakao Nasional melalui Kolaborasi Lintas Sektor” sekaligus merayakan kelulusan 20 peserta Cocoa Doctor di Makassar.
Program strategis ini menggandeng FAST Project UNDP, UK FCDO, dan Cocoa Academy PT Mars Symbioscience Indonesia guna memperkuat rantai pasok yang ramah lingkungan.
Baca Juga: Aturan Ekspor Juni 2026: Harga Referensi CPO Turun, Biji Kakao Justru Melesat
Langkah integratif ini membuka peluang investasi hijau bagi pelaku bisnis yang mencari kepastian pasokan biji kakao berkualitas prima.
Menperin optimis bahwa sinergi lintas institusi tersebut segera membuahkan hasil nyata bagi perekonomian nasional.
“Kolaborasi ini diharapkan tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi dapat diterjemahkan menjadi program dan aksi bersama yang memberikan dampak nyata bagi petani, pelaku usaha, dan industri kakao nasional,” tegasnya.
Sebanyak 35 pemangku kepentingan strategis menghadiri forum penting tersebut. Lembaga yang hadir meliputi Kemenko Pangan, Kemenko Perekonomian, Satgas Kopi dan Kakao Bappenas, UGM, UK FCDO, Balai Perhutanan Sosial Gowa, Kementerian Transmigrasi, BPDP, BDI Makassar, serta BBSPJIHPMM Makassar.
Baca Juga: Tembus Pasar Prancis, Kemenperin Pacu Hilirisasi Kakao Berdaya Saing Global
Peran Perempuan Menggerakkan Rantai Nilai Kakao Modern
Kelulusan 20 tenaga ahli pada fase ini mencerminkan inklusivitas tinggi dengan dominasi 15 perempuan atau 75 persen dari Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Barat, Papua Barat, Sulawesi Tengah, dan Jawa Barat.
Kehadiran para perempuan terampil ini membuktikan bahwa sentuhan ketelitian mampu mendongkrak standar pascapanen kakao lokal ke level premium.
Para lulusan ini memegang peranan krusial dalam mentransfer teknik budidaya modern langsung ke komunitas petani daerah.
Baca Juga: Kemendag Perkuat Ekosistem Desa BISA Ekspor di Sulawesi Selatan: Kakao dan Nilam Go International
Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika memaparkan bahwa kapabilitas SDM menjadi motor penggerak rantai pasok modern.
“Kementerian Perindustrian memandang pengembangan SDM sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun industri kakao yang berdaya saing. SDM yang memiliki kompetensi di bidang budidaya, pascapanen, fermentasi, pengolahan, maupun aspek keberlanjutan akan memperkuat keterhubungan antara kebutuhan industri dengan kondisi di tingkat hulu,” ungkap Putu.
Ia menambahkan bahwa para alumnus Cocoa Doctor segera menyebarkan ilmu fermentasi dan tata kelola tanaman bermutu tinggi ke berbagai sentra produksi.
Langkah aktif ini menjamin kestabilan produksi biji kakao fermentasi yang sangat diburu produsen cokelat mewah perkotaan.
Baca Juga: Indonesia Perkuat Posisi Pusat Grinding Kakao Global, Ekspor Tembus US$ 3,4 Miliar
Jaminan Ketertelusuran Pasokan Menembus Pasar Global
Fasilitas Mars Cocoa Academy Tarengge sukses melatih 70 peserta sejak Juli hingga awal Oktober 2026, lalu melanjutkan pelatihan bagi 30 peserta tersisa pada 20 Oktober hingga 11 November 2026.
Kurikulum intensif membekali setiap peserta dengan teknik pemenuhan standar pasar internasional dan ketertelusuran produk (traceability).
Konsumen urban masa kini sangat peduli pada aspek etis serta keberlanjutan produk yang mereka konsumsi sehari-hari.
Baca Juga: Kemendag: Harga Referensi CPO Maret 2026 Naik ke USD 938,87, Harga Biji Kakao Anjlok 29 Persen
Kemenperin terus mempererat sinergi bersama kementerian teknis, pemerintah daerah, akademisi, dan asosiasi industri dalam mewujudkan ekosistem agroindustri terpadu.
Kolaborasi menyeluruh ini memperkokoh daya tawar produk cokelat Indonesia di kancah global sekaligus menghadirkan kepastian pasokan bagi pabrik pengolahan di dalam negeri.
Keberadaan 100 Cocoa Doctor memastikan industri hilir kakao nasional semakin mandiri, bernilai jual tinggi, dan siap memikat pasar domestik maupun ekspor.




