“Jika harga energi global meningkat dalam jangka waktu yang panjang, maka biaya produksi industri manufaktur juga berpotensi naik. Hal ini tentu dapat memengaruhi efisiensi produksi serta daya saing produk industri di pasar domestik maupun ekspor,” tambah Agus.
Selain energi, ketergantungan pada bahan baku impor menjadi titik lemah lainnya. Industri tekstil, kimia, logam, hingga makanan dan minuman diprediksi bakal menghadapi tantangan berupa kenaikan harga komoditas global dan perpanjangan waktu pengiriman akibat pengalihan jalur logistik internasional.
Strategi Kemandirian dan Program Prioritas
Menghadapi ketidakpastian ini, pemerintah mempercepat strategi penguatan struktur industri hulu dan peningkatan penggunaan bahan baku dalam negeri.
Langkah ini sejalan dengan program prioritas Presiden Prabowo Subianto terkait swasembada pangan dan energi nasional.
Baca Juga: Kemenperin Validasi Industri Kecil untuk TKDN Self Declare: Syarat, Prosedur, dan Aturan Terbaru
Agus menegaskan bahwa industri manufaktur memegang peranan kunci dalam mewujudkan kemandirian tersebut.
Industri pupuk dan alat mesin pertanian (alsintan) menjadi penyokong utama ketahanan pangan, sementara sektor petrokimia dan teknologi energi baru terbarukan menjadi pilar ketahanan energi.
“Program ketahanan pangan dan ketahanan energi yang menjadi prioritas Presiden Prabowo merupakan langkah strategis untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional. Industri manufaktur memiliki peran penting dalam mendukung upaya tersebut,” jelasnya.




