Baca Juga: BNI Java Jazz Festival 2025 Bikin Cuan, Nasabah BNI Bawa Pulang Emas Hingga Motor
Langkah ini diharapkan tidak hanya menciptakan karya kreatif baru, tetapi juga membuka ruang bagi musisi daerah untuk masuk ke dalam sirkuit industri nasional.
Berry Likumahuwa, yang telah berkecimpung selama dua dekade di belantika musik, mengakui bahwa tantangan terbesar selama ini adalah minimnya sinergi antar-pelaku industri.
“Audiensi ini membantu kami melihat bagaimana setiap elemen dalam ekonomi kreatif bisa saling terhubung. Selama hampir 20 tahun saya berkarya di industri ini, tantangan terbesar adalah kurangnya sinergi. Masukan dari Ibu Wamen mendorong kami untuk mengembangkan ide ini menjadi lebih eksploratif dan berdampak,” ujar Berry.
Mendorong Inovasi Berkelanjutan
Bagi pelaku industri kreatif seperti Jeremy Teja Sanger, dukungan pemerintah melalui Kementerian Ekraf memberikan angin segar.
Baca Juga: Beragam UMKM Cita Rasa Nusantara Turut Meramaikan BNI Java Jazz Festival 2025
Kolaborasi antara musik dan film yang sedang dirancang tersebut diproyeksikan menjadi model pengembangan ekosistem yang bisa direplikasi oleh subsektor lain.
Kementerian Ekraf berharap, dengan manajemen yang lebih terintegrasi, industri jazz Indonesia tidak hanya sukses secara estetika di panggung, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional melalui sektor-sektor turunannya seperti pariwisata dan gaya hidup. (*)






