URBANCITY.CO.ID – Perbankan nasional mencatatkan kinerja intermediasi yang sangat kontributif.
Buktinya, pertumbuhan kredit mencapai 12,67 persen yoy hingga menyentuh angka Rp9.080,9 triliun pada Juni 2026.
Masyarakat urban dan para investor profesional masa kini memandang ekspansi kredit investasi yang melonjak 24,90 persen sebagai indikator positif.
Mereka dapat memanfaatkannya untuk mengoptimalkan portofolio keuangan mereka di tengah dinamika ekonomi modern.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, memastikan bahwa stabilitas sistem keuangan tetap terjaga di level yang sangat aman.
Pencaaian stabilitas sistem tersebut berkat rasio permodalan dan likuiditas yang juga cukup solid.
Penguatan intermediasi ini memberikan dampak nyata bagi ekspansi bisnis sektor riil serta memperluas peluang investasi yang menguntungkan bagi masyarakat luas.
Baca juga:Â OJK Dorong Digitalisasi Keuangan UMKM Indonesia Timur
“Kinerja intermediasi perbankan tetap kontributif dengan profil risiko yang terjaga, didorong oleh kredit investasi yang tumbuh tinggi,” ujar Friderica Widyasari Dewi.
Stabilitas Sektor Keuangan dan Aset Kripto
Industri keuangan non-bank, asuransi, pembiayaan, hingga pasar aset kripto menunjukkan tren ekspansi yang impresif.
Tren tersebut seiring dengan meningkatnya partisipasi 22,69 juta investor ritel di tanah air.
Para pelaku gaya hidup digital dapat memanfaatkan instrumen investasi modern untuk mengamankan nilai kekayaan mereka secara transparan.




