“Ini menjadi tugas kita bersama, bagaimana memenuhi kebutuhan garam nasional sehingga Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” tegas Abraham Mose.
Berdasarkan analisis awal, pabrik ini bisa menghasilkan sekitar 1 juta ton garam per tahun. Kebutuhan nasional saat ini 5,7 juta ton, dan akan naik menjadi 7,3 juta ton dengan pembangunan chlor alkali plant. PT Garam sendiri baru memproduksi 500 ribu ton, sehingga kesenjangan masih lebar.
Managing Director 2 Danantara, Setyo Hantoro, turut mendukung. Ia menyebut kerja sama ini sejalan dengan 20 dari 41 program strategis Danantara, yang fokus pada hilirisasi energi dan pangan.
“Dengan strategi ini, Danantara berharap sinergi antar-BUMN dapat memperkuat ketahanan pangan dan energi, sekaligus menjadikan Indonesia lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan industri dan masyarakat,” pungkas Setyo.
Baca Juga: Jaga Standar, Pertamina Patra Niaga – DPRD Awasi Kualitas BBM di Tolitoli
Dasar kerja sama ini adalah Peraturan Presiden No. 17 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Pergaraman Nasional.
Perpres itu mewajibkan pemenuhan garam konsumsi dan sebagian industri dari produksi dalam negeri pada 2025, garam industri pangan dan farmasi paling lambat 31 Desember 2025, serta garam industri kimia paling lambat 31 Desember 2027.
Di tengah target pertumbuhan ekonomi nasional 8 persen, kolaborasi ini bukan sekadar produksi, melainkan langkah menuju kemandirian yang lebih luas. (*)






