Ancaman Budaya Defensif di Internal
Dampak flexing institusional tak hanya menyasar publik, tapi juga merusak fondasi internal. Ketika organisasi hanya menghargai apa yang tampak, pegawai belajar bahwa visibilitas lebih penting daripada kualitas.
Hal ini memicu lahirnya budaya kerja defensif. Dalam lingkungan seperti ini, kesalahan disembunyikan dan kritik dianggap sebagai ancaman. Ruang aman untuk bersuara (psychological safety) pun menyempit. Akibatnya, muncul rasa keterasingan di kalangan pekerja yang merasakan tekanan realitas di bawah bayang-bayang narasi ideal perusahaan.
Data Edelman Trust Barometer secara konsisten menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap institusi sangat dipengaruhi oleh persepsi integritas dan transparansi, bukan sekadar performa simbolik.
Ujian Kedewasaan Pemimpin
Di era digital, godaan untuk tunduk pada algoritma memang besar. Konten emosional dan impresif lebih mudah viral dibanding penjelasan jujur yang bernuansa. Namun, algoritma tidak dirancang untuk menjaga etika; tugas itu sepenuhnya berada di tangan para pemimpin.
Kepemimpinan yang matang tidak diukur dari seberapa sering tampil di sorotan kamera, melainkan dari keberanian menjaga nilai-nilai organisasi. Etika kerja bukanlah beban komunikasi, melainkan fondasi reputasi jangka panjang.
Pada akhirnya, bukan seberapa sering sebuah institusi muncul di layar yang akan diingat publik, melainkan seberapa jauh ia bisa dipercaya, terutama ketika sorotan padam.





