Multiplier efeknya diklaim menggiurkan. Dari sisi makro, proyek ini digadang-gadang mampu menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) hingga Rp199 triliun saban tahun.
Di tingkat tapak, penyerapan tenaga kerja diprediksi mencapai 5.900 orang. Urusan lingkungan pun tak luput dari hitungan; emisi karbon bisa dipangkas hingga 600 ribu ton CO₂ per tahun.
Baca Juga: Dua Langkah Hijau di Cilacap dan Glenmore, Ambisi Pertamina Memburu Swasembada Energi
Emma menegaskan bahwa proyek percontohan ini adalah paket komplit untuk kesehatan ekonomi dan ekologi. “Bisa mengurangi impor, mengurangi current deficit, bisa menciptakan lapangan pekerjaan, menjadi energi hijau yang bisa mengurangi karbon emisi serta sekaligus mengurangi polusi juga yang membuat paru-paru kita sehat,” imbuhnya.
Mendulang Jelantah di Tegalreja
Uniknya, sumber energi masa depan ini bermula dari kaleng-kaleng bekas di rumah penduduk. Di Kelurahan Tegalreja, Cilacap, lebih dari 2.900 kepala keluarga kini menjadi pemasok bahan baku melalui Bank Sampah Beo Asri.
Sinergi ini menjadi pondasi bagi Indonesia untuk memiliki posisi tawar di pasar energi aviasi global yang kian menuntut standar hijau.
Emma optimistis, penguasaan teknologi di Cilacap akan menjadi tonggak kemandirian. “Pengembangan Biorefinery Cilacap menjadi fondasi jangka panjang bagi penguasaan teknologi, peningkatan daya saing bangsa, serta wujud sinergi seluruh elemen dalam membangun masa depan energi yang berkelanjutan,” pungkasnya. (*)






