URBANCITY.CO.ID – Indonesia kembali mengambil peran sentral dalam diplomasi perdagangan internasional dengan memimpin Pertemuan Menteri G-33 secara virtual, Senin, 9 Maret 2026.
Dalam forum tersebut, Pemerintah Indonesia menggalang kekuatan 47 negara berkembang untuk menyatukan posisi tawar jelang Konferensi Tingkat Menteri (KTM) ke-14 Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) di Kamerun, akhir Maret mendatang.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa perundingan sektor pertanian di WTO telah mengalami stagnasi yang mengkhawatirkan selama beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, pertemuan di Kamerun harus menjadi titik balik untuk menghidupkan kembali keadilan bagi negara berkembang.
“Indonesia menekankan, KTM ke-14 WTO harus dimanfaatkan untuk menghidupkan kembali perundingan pertanian WTO yang dalam beberapa tahun terakhir stagnan. Indonesia selaku koordinator G-33 mengimbau agar reformasi pertanian WTO tetap berorientasi pada pembangunan,” ujar menteri yang akrab disapa Busan tersebut.
Baca Juga: Kemendag dan OJK Koordinasi Tata Kelola Penagihan: PUJK Nakal Terancam Denda Rp15 Miliar
Fokus pada Ketahanan Pangan dan PSH
Dalam pertemuan bertajuk “G-33 Priorities and Collective Action toward MC-14” tersebut, Indonesia mendorong agar isu Public Stockholding for Food Security Purposes (PSH) atau pengadaan stok pangan pemerintah menjadi prioritas utama.
Isu ini krusial bagi negara berkembang untuk melindungi cadangan pangan nasional dari intervensi aturan perdagangan global yang kaku.
Selain PSH, Indonesia juga memperjuangkan Special Safeguard Mechanism (SSM) sebagai perisai bagi petani domestik dari lonjakan impor produk pertanian secara mendadak.




