Dalam paparannya, Gubernur menjelaskan bahwa sektor pariwisata menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi NTB yang berkualitas dan inklusif. Saat ini, NTB memiliki 265 destinasi wisata, terdiri dari 171 destinasi wisata alam, 31 wisata budaya, 12 wisata religi, 7 wisata buatan, dan 43 wisata petualangan.
“Selain itu, NTB juga memiliki 15 kawasan hutan wisata serta 375 desa wisata, dengan 93 desa telah memenuhi standar nasional,” paparnya.
Baca Juga: Pelabuhan Lembar NTB Menggeliat Pascaopimasi Operasi
Sektor pariwisata NTB telah menyerap 422.498 tenaga kerja, didukung oleh 4.137 tenaga kerja pariwisata bersertifikat, serta 5.966 pelaku usaha pariwisata, di mana 402 unit usaha telah tersertifikasi CHSE.
Infrastruktur pariwisata ditopang oleh 1.078 hotel, terdiri atas 274 hotel berbintang dan 804 hotel nonbintang, yang tersebar di zona pariwisata seluas ±32.808 hektare.
Untuk memperkuat pariwisata berkualitas, NTB terus meningkatkan konektivitas melalui pembukaan rute udara domestik baru ke Labuan Bajo, Malang, dan Banyuwangi, serta rute internasional yang telah beroperasi ke Singapura dan Malaysia.
“Ke depan, NTB menargetkan rute langsung ke Perth, Bangkok, Darwin, dan Sydney, termasuk pengembangan transportasi wisata berbasis pesawat amfibi (seaplane), yang dalam pertemuan ini turut dibahas sebagai peluang kerja sama dengan perusahaan asal Kanada,” imbuh Lalu.
Ketahanan Pangan, Hilirisasi, dan Ekonomi Biru
Gubernur NTB juga memaparkan posisi NTB sebagai lumbung pangan nasional. Produksi padi mencapai 1.453.451 ton gabah kering giling dari lahan 280.027 hektare, atau setara 973.812 ton beras, serta produksi jagung sebesar 2.465.293,40 ton dari lahan 334.812,12 hektare.






