Tak ketinggalan, Menteri Ara juga memuji Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho atas pencapaian bersejarah dalam skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).
“Dalam sejarah program rumah subsidi dengan pembiayaan FLPP, capaian tertinggi sebelumnya terjadi pada 2023 dengan 229.000 unit. Namun pada 2025, di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, jumlahnya naik luar biasa menjadi 279.000 unit, meningkat sekitar 50.000 unit hanya dalam satu tahun,” jelasnya.
Baca Juga: Menteri PKP Mulai Land Clearing Rusun Subsidi di Meikarta Bekasi
Melihat ke depan, pemerintah menargetkan BRI menyalurkan 60.000 unit rumah subsidi via FLPP pada 2026. Menurut Menteri Maruarar, ini bukan hanya bukti ketahanan daya beli masyarakat, melainkan tantangan bagi narasi skeptis yang mengklaim sebaliknya.
“Ini membuktikan bahwa tidak benar jika daya beli masyarakat terhadap rumah subsidi menurun. Justru peminatnya semakin banyak,” tambahnya.
Sebagai langkah konkret, Menteri Maruarar mengumumkan pertemuan lanjutan dengan BRI, PNM Mekar, SMF, PNM CAR, dan Tapera untuk mengintegrasikan program besar seperti KUR Perumahan dan BSPS. Ini diharapkan memperluas dampak bagi masyarakat luas.
“Senin depan kami akan bertemu lagi bersama PNM Mekar, SMF, PNM CAR, dan Tapera untuk menggabungkan beberapa kegiatan besar secara masif, seperti KUR Perumahan dan BSPS, agar dampaknya semakin luas bagi masyarakat,” ujarnya.
Baca Juga: Menteri PKP sebut KPR Subsidi FLPP Pilar Utama Kesuksesan Program 3 Juta Rumah
Sementara itu, Hery Gunardi menegaskan komitmen BRI sebagai “bank rakyat Indonesia” untuk terus mendukung pembiayaan rumah subsidi.






