URBANCITY.CO.ID – Tekanan rutinitas kota metropolitan mendorong masyarakat kelas menengah atas mengubah pola liburan menjadi sarana investasi kesehatan mental (wellness).
Menangkap pergeseran gaya hidup tersebut, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengajak para pelaku industri perjalanan menggarap segmen pasar bernilai tinggi (high-value tourism) melalui eksplorasi paket tematik di Daerah Istimewa Yogyakarta dan kawasan Destinasi Super Prioritas (DSP) Borobudur.
Kemenpar merancang inisiatif ini sebagai langkah strategis untuk mempertemukan operator tur dengan penyedia atraksi berbasis mindfulness, gastronomi, dan narasi sejarah yang autentik.
Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (29/10/2026), mengatakan kegiatan familiarization trip (famtrip) ini merupakan respons terhadap pergeseran tren wisata masyarakat, dari wisata massal menuju pengalaman yang lebih bermakna dan bernilai tinggi.
Baca Juga: Bidik Turis Premium Inggris, Kemenpar Genjot Wisata Bernilai Tinggi
Menurut Made, perubahan tersebut sejalan dengan kebutuhan masyarakat perkotaan yang menghadapi tekanan aktivitas sehari-hari dan menjadikan liburan sebagai sarana perawatan diri (self-care), pemulihan kesehatan mental, serta kesempatan memperoleh pengalaman berkesan.
“Tren wisatawan nusantara, khususnya segmen menengah ke atas dari wilayah Jabodetabek, kini tidak lagi sekadar mencari destinasi untuk berfoto, melainkan pengalaman mendalam yang memberikan ketenangan jiwa dan narasi sejarah yang kuat,” kata Made.
Monetisasi Tren Self-Care Melalui Transaksi B2B
Kemenpar mengarahkan program famtrip bertajuk “Harmoni Raga, Rasa, dan Tradisi” ini langsung pada skema transaksi bisnis (business-to-business).
Baca Juga: Peluang Bisnis Wisata Premium Labuan Bajo dan Bali untuk Pasar Tiongkok
Kolaborasi ini membuka ruang investasi baru bagi agen perjalanan untuk menciptakan produk komersial yang mampu mendongkrak durasi tinggal (length of stay) serta tingkat belanja wisatawan di daerah.
Langkah konkret ini mempertemukan sepuluh asosiasi dan agen perjalanan besar—seperti ASITA, ASPPI, AITTA, ASTINDO, dan KEMBERIN—langsung dengan para pengelola atraksi lokal.
“Melalui Famtrip ‘Harmoni Raga, Rasa, dan Tradisi’, kami menjembatani 10 tour operator dan agen perjalanan potensial untuk bertransaksi langsung dengan para pengelola atraksi lokal. Target utama kami adalah terciptanya kesepakatan paket tur komersial baru, baik open trip maupun private group yang siap dipasarkan, sehingga mampu meningkatkan lama tinggal dan pengeluaran wisatawan di Yogyakarta dan Borobudur,” kata Made.
Program ini sekaligus memperkuat akselerasi target 1,18 miliar pergerakan wisatawan nusantara sepanjang 2026 melalui diversifikasi portofolio perjalanan yang lebih menguntungkan pelaku usaha lokal.
Baca Juga: Pesona Kering Kawah Putih: Peluang Investasi Wisata dan Gaya Hidup Urban
Kurasi Pengalaman Unik: Dari Gastronomi Hingga Mindfulness
Para peserta menelusuri itinerary premium selama lima hari empat malam pada 16–20 Oktober 2026 dengan format slow living.
Rangkaian agenda menyajikan perpaduan kuliner dan narasi budaya bernilai jual tinggi, mulai dari Telusur Kampung Santan Spesial Ingkung di Bantul bersama Dje Djak Rasa hingga Senja Gastronomy Walking Tour di kawasan Tugu dan Pecinan.
Peserta juga mendalami narasi sejarah masa lampau lewat tur “Tiga Wajah Mataram” bersama Remen Jawi, mencicipi racikan teh personal di Sadahurip, menyusuri Kampung Wisata Purbayan, serta menikmati sajian etnik Dapur Alit Jogja.
Baca Juga: Peluang Investasi Wisata Jakarta Bogor Gaet Turis Korea
Sesi meditasi berkesadaran bersama Selaras Jiwo Journey mengunci rangkaian perjalanan sebagai solusi pemulihan energi bagi kalangan profesional perkotaan. Format perjalanan ini menyajikan nilai tambah yang sulit ditiru oleh model tur konvensional.
Peluang Investasi Wisata Berjalan Kaki dan Dampak Ekonomi
Kemenpar menempatkan walking tour sebagai produk wisata masa depan yang ramah lingkungan dan efisien secara modal.
Konsep ini memberikan imbal hasil optimal karena mengandalkan kekuatan cerita lokal dan interaksi personal tanpa memerlukan pembangunan infrastruktur masif.
Baca Juga: TransNusa Buka Rute Melbourne-Bali, Perkuat Investasi dan Wisata Urban
Wisatawan urban mendapatkan pengalaman sensorik yang utuh sekaligus menyuntikkan likuiditas ekonomi langsung ke kantong-kantong komunitas lokal.
“Melalui jalan kaki, wisatawan tidak hanya melintasi ruang kota, tetapi dapat berinteraksi langsung dengan warga lokal, menghirup suasana kampung, serta meresapi cerita sejarah dan kuliner secara autentik di setiap sudut yang dikunjungi. Pengalaman sensorik seperti inilah yang dicari oleh wisatawan berkualitas tinggi masa kini,” tambah Made.
Kemenpar menetapkan tolok ukur keberhasilan program ini pada lahirnya minimal dua paket wisata tematik baru dari setiap operator pascakegiatan.
“Ini dilakukan sebagai bagian dari upaya mendukung pertumbuhan ekonomi lokal dan pariwisata yang berkelanjutan,” ujar Made.




