URBANCITY.CO.ID – Hubungan diplomatik antara China dan Jepang semakin memanas, sehingga memengaruhi berbagai aspek kehidupan warga kedua negara. Baru-baru ini, Pemerintah China melarang rakyatnya untuk bepergian ke Jepang selama libur Tahun Baru Imlek yang jatuh pada tanggal 15 Februari 2026.
Larangan tersebut diumumkan oleh Kementerian Luar Negeri di Beijing pada hari Senin, tanggal 26 Januari 2026.
“Menjelang Tahun Baru Imlek, Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar China di Tokyo mendesak warga untuk menghindari perjalanan ke Jepang dan menyarankan mereka yang sudah berada di sana untuk tetap waspada terhadap peringatan kejahatan dan bencana,” tulis Kementerian Luar Negeri di Beijing dalam sebuah pernyataan, dilansir dari South China Morning Post (SCMP).
“Dalam beberapa pekan terakhir, keamanan publik di Jepang memburuk, dengan meningkatnya kejahatan yang menargetkan warga negara China dan serangkaian gempa bumi yang menyebabkan cedera,” imbuhnya.
Baca Juga : Bisakah Indonesia Nyusul China? Ekonom: Masih Banyak Tantangan
Peringatan ini menunjukkan kelanjutan dari kebuntuan diplomatik antara Jepang dan China, yang dimulai sejak Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menyatakan bahwa serangan China ke Taiwan berpotensi menjadi ancaman keamanan yang memicu intervensi militer.
Alasan di balik larangan China terhadap warganya untuk pergi ke Jepang
Mengutip dari The Japan Times, larangan ini muncul sebagai respons atas kemarahan China terhadap komentar Takaichi mengenai serangan China ke Taiwan, yang disampaikan pada tanggal 7 November 2025.
Pernyataan tersebut membuat Beijing marah, sehingga menimbulkan pembatasan ekspor dan pembatalan penerbangan.
Dengan mengutip “peningkatan kejahatan yang menargetkan warga negara China”, Kementerian Luar Negeri di Beijing seolah menyampaikan bahwa warga negaranya menghadapi ancaman keamanan serius di Jepang.
Pemerintah China sendiri pernah memperingatkan Tokyo bahwa mereka akan mengalami kekalahan militer yang fatal jika menggunakan kekuatan untuk ikut campur dalam urusan Taiwan.
Sebagai informasi, China memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan bertekad untuk menguasainya, termasuk dengan menggunakan kekuatan jika diperlukan.
Sebagian besar negara, termasuk Jepang, tidak mengakui Taiwan sebagai negara merdeka.
China membatalkan seluruh penerbangan ke Jepang
Peringatan agar warga China tidak berkunjung ke Jepang kemungkinan akan menurunkan jumlah wisatawan.
Pada bulan lalu, jumlah wisatawan asal China ke Jepang turun sebesar 45 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Angka tersebut menunjukkan hanya sekitar 330.000 wisatawan China yang datang ke Jepang.
Padahal, kunjungan wisatawan China pernah mencapai seperempat dari total wisatawan asing di Jepang, dengan total hampir 7,5 juta orang datang dari China dalam kurun waktu sembilan bulan pertama tahun 2025.
Perselisihan kedua negara pada tahun ini tampaknya masih berdampak pada penurunan jumlah wisatawan.
Sebab, kabar terbaru menyebutkan bahwa maskapai penerbangan besar di China, termasuk Air China, China Eastern, dan China Southern Airlines, memperpanjang kebijakan perubahan dan pembatalan gratis untuk penerbangan ke Jepang hingga tanggal 24 Oktober 2026. Informasi tersebut disampaikan pada hari Senin, tanggal 26 Januari 2026.
Maskapai-maskapai di China pertama kali mengumumkan kebijakan ini pada bulan November 2025, tepat setelah Takaichi menyampaikan pernyataan kontroversialnya.
Meskipun Takaichi belum menarik kembali pernyataannya, Perdana Menteri Jepang itu telah memperhalusnya dengan menegaskan kembali posisi Jepang mengenai kebijakan “Satu China” Tiongkok.
Dia juga mengatakan bahwa penafsiran China terhadap pernyataannya tidak sesuai dengan fakta.
Baca Juga : PELNI Gunakan Satelit LEO untuk Perkuat Komunikasi Kapal
Pada konferensi pers tanggal 19 Januari untuk mengumumkan pemilihan umum sela, Takaichi mengamati bahwa China telah melakukan latihan militer di sekitar Taiwan dan tekanan ekonomi melalui pengendalian bahan-bahan rantai pasokan utama semakin dilakukan.
“Lingkungan keamanan internasional semakin memburuk,” kata Takaichi.
Di sisi lain, China optimis bahwa negaranya akan mengalami ledakan pariwisata yang menargetkan wisatawan dari Asia Timur, seperti Korea Selatan.
Optimisme itu didukung oleh kebijakan bebas visa yang memungkinkan jumlah wisatawan Korea Selatan ke China dan pengunjung China ke Korea Selatan terus meningkat.




