“Keberhasilan itu bukan soal cepat atau lambat, tapi konsistensi. Pelan-pelan asal jalan.” ucap Dian bersemangat.
Panen Rutin dan Efek Domino Ekonomi
Kini, buah dari konsistensi itu mulai terasa. Dengan sistem rotasi tanam yang terencana, kelompok ini mampu memanen sayuran satu hingga tiga kali dalam sepekan. Varietasnya pun beragam, mulai dari bayam merah, kangkung, hingga terong yang ditanam sesuai karakter lahan.
Dampaknya terasa langsung di dapur warga. Setiap anggota kelompok kini mampu menghemat 10 hingga 20 persen biaya belanja sayur bulanan. Tak hanya itu, penjualan hasil panen mampu menyumbang kas kelompok hingga jutaan rupiah per bulan.
“Sekarang kebun ini bukan cuma untuk makan sendiri, tapi juga bisa menambah penghasilan. Tanaman herbalnya juga jadi obat alami keluarga. Rasanya usaha kami betul-betul berarti,” ujar Dian dengan mata berbinar.
Baca Juga: Bank Mandiri Tegaskan Komitmen TJSL Lewat 1.174 Program di 2025
Menuju Kampung Proklim Percontohan
Keberhasilan ini memicu efek domino. Sebanyak 25 anggota aktif telah berhasil menginspirasi 10 warga lainnya untuk mulai menanam di pekarangan masing-masing.
Manager Community Involvement & Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan manifestasi nyata dari pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan.
“Inilah dampak dari tanggung jawab sosial dan lingkungan, yakni membangun kapasitas manusia agar mampu menjaga ketahanan pangan dan lingkungan secara mandiri,” jelas Iwan.
Ke depan, Kelurahan Air Jamban diproyeksikan menjadi Kampung Proklim percontohan. Rencana diversifikasi tanaman buah dan penguatan jejaring pasar lokal sudah masuk dalam peta jalan. Harapan yang dulu semu, kini telah tumbuh dan dirawat oleh tangan-tangan perempuan tangguh Air Jamban. (*)






