UBANCITY.CO.ID – Februari 2026 menghadirkan sebuah momen istimewa sekaligus bermakna bagi Indonesia, yaitu bulan Ramadhan bagi umat Islam (diperkirakan 20 atau 21 Februari ) bertemu atau beririsan dengan masa Prapaskah bagi umat Katolik (dimulai pada Rabu Abu, 18 Februari).
Di tengah masyarakat majemuk yang kerap diuji oleh polarisasi identitas, pertemuan dua masa latihan rohani ini menawarkan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar toleransi seremonial. Ia membuka ruang saling memahami, memperdalam kerukunan, dan—yang sering terlewat—membangun pertobatan ekologis bersama.
Dalam kehidupan sehari-hari, puasa dan pantang sering dipersempit sebagai ritual individual. Padahal, dalam tradisi keagamaan, keduanya adalah pendidikan batin yang berdampak sosial.
Puasa meskipun dalam praktiknya berbeda bagi kedua agama, substansinya adalah melatih manusia mengendalikan diri, menunda hasrat, dan menyadari keterbatasan. Pantang dalam iman Katolik menumbuhkan kepekaan terhadap apa yang selama ini dianggap wajar: makanan berlimpah, air yang terus mengalir, energi yang dihamburkan.
Baca Juga: Menanti Hilal di Langit Nusantara: Sidang Isbat dan Kepastian Awal Ramadhan 1447 H
Ketika disiplin rohani ini dijalani bersamaan oleh jutaan orang lintas iman, ia berpotensi menjadi gerakan moral kolektif.
Bukan Sekedar “Tidak Saling Ganggu”
Pada umumnya, kerukunan sering dipahami sebagai “tidak saling mengganggu”. Definisi ini penting, tetapi belum cukup. Kerukunan yang matang justru tumbuh dari pengalaman bersama, dari kesediaan untuk memahami apa yang dijalani orang lain.




