Baca Juga: Dampak Stimulus Fiskal 2026: Ekonomi Tumbuh 6 Persen Tapi Risiko Inflasi Membayangi
“Kondisi ini memicu persepsi di kalangan pelaku usaha bahwa pemerintah lebih fokus pada intensifikasi pajak yang agresif terhadap pemain lama daripada memperluas basis ekonomi yang sehat,” tambahnya.
Krisis Koordinasi KSSK di Tengah Badai Geopolitik
Kritik tajam juga diarahkan pada kelambanan otoritas fiskal dalam memitigasi dampak geopolitik akibat eskalasi invasi AS dan Israel ke Iran.
Purbaya, selaku Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), dianggap gagal menunjukkan inisiatif koordinasi yang solid.
Ketidakhadiran kepemimpinan yang taktis di KSSK membuat pasar kehilangan jangkar. Akibatnya, IHSG mengalami koreksi terdalam kedua setelah KOSPI, sementara Rupiah kini terpuruk dan ‘parkir’ di level psikologis baru Rp17.002 per dolar AS.
Baca Juga: Peringkat Kredit Indonesia, Jangkar Fiskal di Tengah Ketidakpastian
“Ini adalah sinyal bahaya bahwa sektor keuangan kita sedang berjalan tanpa nakhoda di tengah badai,” tegas Kusfiardi.
Kondisi ini memicu krisis kepercayaan pasar global, ditandai dengan kenaikan yield SBN 10-tahun yang mencapai 7,1 persen.
Menurut Kusfiardi, transisi kepemimpinan dari Sri Mulyani ke Purbaya pada akhirnya hanya bersifat kosmetik dalam gaya komunikasi, sementara substansi fiskal justru terjebak dalam risiko yang lebih tinggi.
Desakan Evaluasi Total Kabinet Ekonomi
Menghadapi ketidakpastian global, Menteng Kleb merumuskan empat pilar kepemimpinan fiskal: Teknokrat populis dengan kredibilitas global, productive safety net, kedaulatan fiskal, serta transparansi akuntabilitas. Kusfiardi menegaskan bahwa perbaikan kebijakan saja tidak lagi cukup.






