“Hal ini didorong oleh peningkatan harga ketiga komoditas tersebut di pasar internasional,” kata Mendag yang akrab disapa Busan tersebut. Berdasarkan data Bank Dunia, harga timah memang melonjak 67,29 persen dan nikel naik 15,42 persen (YoY).
Geliat Industri dan Impor Barang Modal
Di sisi lain, total impor Januari 2026 juga merangkak naik ke angka USD 21,20 miliar atau meningkat 18,21 persen (YoY). Namun, kenaikan ini justru dipandang sebagai sinyal positif bagi geliat industri manufaktur tanah air.
Pasalnya, pertumbuhan tertinggi terjadi pada impor barang modal yang melonjak 35,23 persen, diikuti bahan baku sebesar 14,67 persen. Hal ini mencerminkan adanya peningkatan aktivitas produksi dan optimisme para pelaku usaha.
Baca Juga: Mendag Busan Dorong Industri Baja Nasional di Tengah Surplus Perdagangan
“Hal ini sejalan dengan peningkatan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia dari 51,2 pada Desember 2025 menjadi 52,6 pada Januari 2026,” tambah Mendag Busan.
Mitra Dagang Utama
Amerika Serikat masih menjadi lumbung surplus terbesar bagi Indonesia dengan nilai USD 1,55 miliar, disusul India dan Filipina.
Sementara itu, Tiongkok tetap menjadi mitra dengan defisit perdagangan terbesar bagi Indonesia, yakni mencapai USD 2,47 miliar.
Secara keseluruhan, pemerintah optimistis fondasi ekonomi di awal tahun 2026 ini cukup kuat untuk menghadapi dinamika global, terutama didukung oleh penguatan industri pengolahan dan tingginya tingkat kepercayaan konsumen domestik. (*)





