Sektor ini tumbuh 3,96 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan total nilai mencapai USD 54,98 miliar.
“Sepanjang tiga bulan pertama 2026, pertumbuhan ekspor didorong kinerja sektor industri pengolahan naik 3,96 persen atau menjadi USD 54,98 miliar dibandingkan periode Januari—Maret 2025 yang sebesar USD 52,89 miliar,” jelas Mendag Busan.
Beberapa komoditas yang mengalami lonjakan ekspor tajam antara lain nikel (naik 60,60%), timah, dan aluminium. Amerika Serikat, India, dan Filipina menjadi mitra dagang yang memberikan surplus terbesar bagi Indonesia.
Impor Terkoreksi Dampak Musiman
Di sisi lain, nilai impor pada Maret 2026 tercatat sebesar USD 19,21 miliar, turun 8,08 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini terjadi pada seluruh golongan barang, mulai dari barang modal hingga konsumsi.
Baca Juga: Impor Migas Jauh Merosot, Makanya Neraca Perdagangan November Surplus Besar
Mendag Busan menjelaskan bahwa koreksi impor ini dipengaruhi oleh faktor musiman seperti libur panjang Idulfitri, tekanan geopolitik Timur Tengah, serta pelemahan permintaan domestik sementara.
Meski demikian, pemerintah tetap optimis dan adaptif dalam menghadapi tantangan ekonomi ke depan. (*)






