Sentimen Timur Tengah Jadi Motor Pelemahan
Meski pemerintah mengklaim kondisi internal aman, para analis pasar melihat adanya tekanan eksternal yang terlampau kuat dan gagal diantisipasi. Konflik geopolitik di Timur Tengah yang kembali membara menjadi motor utama pelarian modal keluar (capital outflow).
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan, pelaku pasar saat ini diliputi kekhawatiran besar terhadap ketidakpastian negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Mandeknya kesepakatan tersebut berisiko tinggi mengganggu rantai pasok energi global dan mengerek inflasi.
Senada dengan Ibrahim, pengamat mata uang Ariston Tjendra menilai bahwa peluang jebolnya level Rp18.000 memang sudah diprediksi lantaran eskalasi konflik di luar negeri terus mendapat tambahan sentimen negatif. Hubungan Washington dan Teheran yang memanas langsung berdampak pada volatilitas komoditas dunia.
“Penggerak utama pelemahan rupiah terhadap dolar AS masih soal konflik AS dan Iran. Kabar terbaru, AS dan Iran masing-masing belum sepakat damai, bahkan saling serang yang mendorong kenaikan harga minyak mentah,” kata Ariston.




