URBANCITY.CO.ID – Para perwira di Pertamina EP (PEP) Rantau menciptakan terobosan teknologi bernama Ultimate Sand Trap (USAT) untuk mengatasi persoalan klasik di lapangan migas matang: masalah kepasiran.
Perangkat ini terbukti ampuh menekan risiko kehilangan produksi sekaligus menyumbang pendapatan hingga miliaran rupiah bagi perusahaan.
Field Manager PEP Rantau, Tomi Wahyu Alimsyah, mengungkapkan bahwa sumur-sumur tua di wilayah kerjanya kerap mengalami gangguan akibat pasir yang ikut terangkat bersama fluida. Material pasir ini sering kali merusak pompa dan menghambat pengangkutan minyak mentah (crude oil) ke permukaan.
“Sebelumnya inovasi yang diterapkan untuk mengatasi masalah kepasiran adalah We Are Fines di tahun 2023. Kemudian USAT dikembangkan dan diaplikasikan sejak 2024 untuk melengkapi inovasi sebelumnya. Dengan begitu masalah kepasiran di beberapa aspek bisa teratasi,” ujar Tomi dalam keterangannya.
Baca Juga: Papua Field Academy Meluncur, Pertamina EP: Menanam Benih Pemimpin Energi di Tanah Papua
Menekan Risiko Kerusakan Pompa
USAT dirancang khusus untuk memperpanjang masa pakai pompa, terutama jenis Electric Submersible Pump (ESP). Dari 87 sumur yang ada di PEP Rantau Field, 29 di antaranya bergantung pada pompa ESP yang sangat rentan terhadap gesekan pasir.
Secara teknis, alat ini dipasang di bagian tengah tubing pompa untuk menangkap pasir yang jatuh kembali (fallback) di dalam sumur. Mekanisme ini memastikan pasir tidak masuk ke dalam komponen mesin pompa, melainkan tertahan di sela antara USAT dan tubing.




