URBANCITY.CO.ID – Kreativitas penjahit lokal tak lagi bisa dipandang sebelah mata. Di tengah gempuran jenama global, produk fesyen Indonesia justru mulai mencuri panggung di pasar internasional.
Tak sekadar menjual eksotisme wastra, para perajin dan desainer kini mulai bicara soal kualitas jahitan dan standar kelas dunia yang kompetitif.
Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti Widya Putri, mengonfirmasi tren positif ini saat membuka gelaran Indonesia Fashion Aesthetics (IFA) 2026 di Jakarta, Selasa, 10 Februari lalu.
“Produk fesyen lokal di daerah terus menunjukkan peningkatan kualitas. Hal ini sejalan dengan upaya pengembangan ekosistem fesyen nasional. Ke depannya, dukungan pemerintah baik pusat maupun daerah harus terus diberikan terhadap fesyen Indonesia,” ujar Roro.
Baca Juga: Dorong Industri IKM, Kemenperin Resmikan Sentra Fesyen di Bintan
Strategi “jemput bola” kini menjadi tumpuan Kementerian Perdagangan. Roro menekankan bahwa para atase perdagangan dan perwakilan di luar negeri harus menjadi ujung tombak promosi.
“Para pelaku usaha Indonesia, termasuk sektor fesyen, dapat memanfaatkan keberadaan para perwakilan tersebut untuk membantu mempromosikan produknya di negara-negara para perwakilan berada,” terangnya.
IFA 2026, yang mengusung tema ‘Sophisticated’, menjadi etalase bagi 25 desainer dan jenama beken—mulai dari Itang Yunasz hingga Buttonscarves. Ajang ini diharapkan bukan sekadar parade di atas catwalk, melainkan mesin penggerak ekonomi.
“Melalui ajang ini, kami berharap lahir kolaborasi baru, kontrak dagang baru, serta penguatan citra Indonesia sebagai sumber fesyen yang kreatif, berkarakter, dan relevan secara global,” jelas Roro.




