Sekretaris Perusahaan ASDP, Windy Andale, menjelaskan bahwa sistem ini adalah kunci utama untuk menekan kepadatan pelabuhan, terutama menjelang horor tahunan: Angkutan Lebaran 2026.
Dengan tiket yang bisa dipesan hingga 60 hari sebelum keberangkatan, manajemen pelabuhan kini punya waktu untuk bernapas dan mengatur arus kendaraan agar tidak menumpuk di mulut dermaga.
Siaga di Jalur Padat
Baca Juga: ASDP Jaga Konektivitas Papua Barat Daya Lewat Penyeberangan Sorong
Namun, digitalisasi hanyalah satu sisi mata uang. Di sisi lain, urusan fisik kapal dan dermaga tetap menjadi pekerjaan rumah yang serius. Di lintasan maut Merak–Bakauheni, ASDP menyiagakan 75 kapal, lengkap dengan tambahan dermaga ekspres dan penguatan di Ciwandan.
Sementara itu, di selat sempit Ketapang–Gilimanuk, 56 kapal—termasuk raksasa berkapasitas besar—disiapkan untuk memastikan arus tak tersendat.
Lewat Ferizy, tiket kini mendarat di WhatsApp atau surel dalam hitungan detik. Fleksibilitas pembayaran dan kepastian jadwal diharapkan bisa mengubur dalam-dalam memori tentang antrean panjang yang membosankan di pelabuhan.
ASDP kini tengah mencoba membuktikan bahwa melaut pun bisa dilakukan dengan cara yang elegan dan berkelanjutan.
Baca Juga: ASDP Siapkan Strategi Terpadu Hadapi Mudik Lebaran 2026 di Jalur Sumatera-Jawa-Bali
Peta Digital Penyeberangan Nusantara
Transformasi ASDP bukan sekadar memindahkan loket ke ponsel, melainkan memetakan ulang efisiensi di jalur laut Indonesia. Dengan target 68 pelabuhan terintegrasi pada akhir 2026, antrean fisik di dermaga diharapkan segera menjadi sejarah.






