URBANCITY.CO.ID – Di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Venezuela akan menyediakan pasokan minyak mentah sebanyak 30 hingga 50 juta barel kepada Amerika Serikat, dengan harga sesuai pasar.
Trump menyampaikan hal ini pada Selasa (6/1/2026) waktu setempat, menekankan bahwa hasil transaksi tersebut akan digunakan untuk kepentingan rakyat kedua negara. Ia juga menyatakan bahwa otoritas sementara di Venezuela akan menyerahkan minyak yang sebelumnya dikenai sanksi.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui akun Truth Social, dengan penekanan bahwa pengalihan minyak ini merupakan bagian dari kesepakatan yang kini dikendalikan oleh Washington. Dalam unggahannya, Trump menegaskan hasil pengelolaan minyak itu akan dimanfaatkan “demi kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat”.
Trump menjelaskan bahwa Menteri Energi AS, Chris Wright, telah diperintahkan untuk segera melaksanakan rencana ini. Minyak akan diangkut menggunakan kapal penyimpanan khusus dan dikirim ke pelabuhan-pelabuhan AS untuk dibongkar.
Baca Juga : Harga Pangan Dorong Inflasi Jakarta Capai 0,33% di Desember 2025
Menurut Trump, logistik telah disiapkan agar pengiriman berjalan lancar, menunjukkan langkah nyata AS untuk mengamankan energi dari Venezuela meskipun situasi politiknya belum stabil.
Seorang pejabat senior pemerintahan AS, yang berbicara kepada CNN secara anonim, mengungkapkan bahwa minyak tersebut sudah diproduksi dan dikemas dalam barel.
Sebagian besar sudah dimuat di kapal dan siap dikirim ke fasilitas pengolahan di Teluk AS. Pejabat itu menambahkan bahwa setelah tiba, minyak akan langsung diproses di kilang domestik untuk masuk ke rantai pasok energi nasional.
Walaupun jumlahnya terdengar besar, pasokan ini relatif kecil dibandingkan konsumsi minyak AS, yang mencapai lebih dari 20 juta barel per hari dalam sebulan terakhir. Para analis memperkirakan dampaknya pada harga minyak global akan ringan, dan pengaruhnya terhadap harga bensin konsumen akan minimal.
Dibandingkan dengan pelepasan 180 juta barel dari Cadangan Minyak Strategis pada 2022 di era Biden, yang hanya menurunkan harga bensin 13-31 sen per galon dalam empat bulan, langkah Trump ini lebih dilihat sebagai strategi geopolitik daripada solusi harga bahan bakar.
Klaim ini langsung memicu reaksi keras dari Caracas. Dengan harga minyak global sekitar 56 dolar AS per barel, nilai transaksi bisa mencapai 2,8 miliar dolar AS (sekitar Rp 47 triliun), setara dengan pasokan AS selama dua setengah hari.
Namun, pernyataan ini dianggap penuh muatan politik pascaoperasi militer AS di Venezuela. Trump menegaskan ambisinya untuk mengontrol masa depan Venezuela, termasuk membuka akses bagi perusahaan energi AS ke cadangan minyak terbesar dunia.
Associated Press pada Rabu (7/1/2026) melaporkan bahwa Gedung Putih akan mengadakan pertemuan tertutup dengan petinggi ExxonMobil, Chevron, dan ConocoPhillips pada Jumat untuk membahas Venezuela. Sumber mengatakan pemerintahan Trump ingin membuka industri minyak Venezuela bagi modal dan teknologi AS, sebagai bagian dari strategi pascapenangkapan Nicolas Maduro.
Namun, Venezuela menegaskan kedaulatan mereka. Penjabat Presiden Delcy Rodriguez menolak tekanan Trump dan memperingatkan bahwa masa depan negara tidak akan ditentukan oleh ancaman luar.
Ketegangan meningkat setelah Venezuela melaporkan 24 aparat keamanan tewas dalam operasi AS untuk menangkap Maduro. Jaksa Agung Tarek William Saab menyebut korban mencapai puluhan, termasuk warga sipil, dan akan menyelidiki sebagai kejahatan perang.
Kuba mengonfirmasi 32 personelnya tewas. Pentagon melaporkan tujuh tentara AS terluka. Di Caracas, video penghormatan korban dan aksi massa dukungan Maduro terjadi.
Baca Juga : Ketegangan Venezuela dan AS, Ini Dampaknya bagi Ekonomi Indonesia
Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar dunia, tapi produksinya hanya satu juta barel per hari, jauh di bawah AS yang 14 juta. Ini membuatnya rentan terhadap investasi asing dan perebutan pengaruh.
Sengketa dengan Guyana atas Essequibo, yang melibatkan ExxonMobil, menambah kompleksitas.
Di AS, jajak pendapat menunjukkan pembelahan: 40 persen mendukung penangkapan Maduro, sama banyak yang menolak, dan sisanya ragu. Mayoritas menentang kontrol AS atas Venezuela dan ingin rakyat Venezuela yang memutuskan nasibnya.
Regional, Kolombia protes ancaman Trump, sementara Eropa seperti Prancis, Jerman, dan Inggris dukung kedaulatan Greenland. Venezuela kini menjadi simbol kebijakan luar negeri AS di Amerika Latin, melibatkan minyak, militer, dan geopolitik.




