URBANCITY.CO.ID – Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengungkap bahwa virus Nipah pernah terdeteksi pada hewan di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Peneliti Ahli Utama Virologi sekaligus Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Niluh Putu Indi Dharmayanti.
Sebagai konteks, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini menerima laporan penambahan dua kasus infeksi virus Nipah di India. Kasus tersebut dialami oleh petugas kesehatan di rumah sakit swasta yang sama di Barasat, distrik North 24 Parganas. Pasien pertama adalah perempuan berusia 25 tahun, sedangkan pasien kedua adalah laki-laki dengan usia yang sama. Kasus ini terungkap setelah keduanya menjalani pemeriksaan di National Institute for Virology Pune pada tanggal 13 Januari 2026.
Selain dua pasien positif, terdapat penambahan tiga suspek yang terdiri dari dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lain. Mereka semua kini dirawat di rumah sakit di Beleghata, West Bengal.
Mengenai situasi di Indonesia, Niluh menjelaskan bahwa virus Nipah adalah penyakit zoonotik yang berpotensi memicu wabah jika tidak diantisipasi dengan baik. Virus ini termasuk genus Henipavirus, dengan reservoir alami berupa kelelawar buah dari famili Pteropodidae, khususnya genus Pteropus. Kelelawar tersebut dapat membawa virus tanpa gejala dan berpotensi menularkannya ke hewan lain atau manusia.
Baca Juga : Dubai Rencanakan Jalan Emas untuk Atraksi Mewah
Penularan virus Nipah ke manusia bisa terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi seperti babi, konsumsi makanan yang terkontaminasi, serta penularan antarmanusia. Meski hingga Minggu, 1 Februari 2026, belum ada catatan infeksi pada masyarakat Indonesia, virus ini telah terdeteksi di satwa liar.
Niluh menyatakan bahwa sejumlah penelitian memberikan bukti ilmiah tentang keberadaan virus Nipah di satwa liar. Salah satunya studi serologis di Kalimantan Barat, yang menemukan antibodi virus Nipah di sekitar 19 persen sampel serum kelelawar Pteropus vampyrus, meskipun tidak ditemukan pada babi.
“Deteksi molekuler juga telah dilakukan menggunakan metode PCR pada sampel saliva dan urin kelelawar di Sumatera Utara, yang mengonfirmasi keberadaan genom Nipah virus,” tuturnya, dikutip dari laman resmi BRIN.
Penelitian lanjutan juga menemukan virus serupa di Pteropus hypomelanus di wilayah Jawa, dengan karakter genetik yang berkerabat dekat dengan isolat dari Malaysia dan negara Asia Tenggara lainnya.
Niluh memperingatkan bahwa temuan ini tidak boleh dianggap remeh. Kondisi ekologis Indonesia membuat risiko penularan sangat mungkin, karena keanekaragaman spesies kelelawar yang tinggi, kedekatan habitat satwa liar dengan permukiman manusia, serta praktik perburuan dan perdagangan satwa yang mendorong spillover virus.
Di samping itu, pasar hewan dengan sanitasi kurang memadai dan populasi babi yang besar di beberapa wilayah turut meningkatkan potensi penularan lintas spesies.
“Interaksi yang intens antara manusia, hewan, dan lingkungan menjadi kunci munculnya penyakit zoonotik seperti Nipah,” kata Niluh.
Virus Nipah pertama kali teridentifikasi di Malaysia pada 1998 dan terus muncul di negara-negara Asia Selatan dan Tenggara. Niluh menekankan bahwa dampaknya serius dengan tingkat kematian tinggi, sehingga perlu diwaspadai untuk mencegah wabah yang memengaruhi kesehatan, sosial, dan ekonomi.
Sayangnya, hingga saat ini belum ada vaksin atau obat antivirus spesifik. Penanganan bergantung pada perawatan suportif, dan pencegahan adalah langkah utama.
“BRIN mendorong penguatan surveilans aktif pada satwa liar, hewan domestik, dan manusia, serta peningkatan kapasitas diagnostik di berbagai daerah. Deteksi dini dinilai krusial untuk mencegah meluasnya penularan jika virus berpindah ke manusia,” jelas Niluh.
Baca Juga : BMM Kolaborasi dengan Masjid Istiqlal untuk Wakaf Al-Qur’an Isyarat
Pendekatan One Health, yang melibatkan kolaborasi kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan, menjadi strategi utama. Tantangan ke depan termasuk keterbatasan data epidemiologi dan rendahnya kesadaran masyarakat.
“Tantangan ke depan adalah keterbatasan data epidemiologi dan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap risiko zoonosis. Edukasi publik harus diperkuat agar masyarakat memahami bahaya kontak dengan satwa liar dan konsumsi pangan yang berpotensi terkontaminasi,” ungkap Niluh.
Dia berharap hasil riset BRIN dapat menjadi dasar kebijakan nasional untuk pencegahan penyakit emerging dan re-emerging. Penguatan riset, surveilans, dan kesiapsiagaan adalah kunci agar Indonesia siap menghadapi ancaman virus Nipah.
Gejala virus Nipah, menurut Kementerian Kesehatan, memiliki masa inkubasi 4-14 hari. Setelah itu, penderita bisa mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, nyeri tenggorokan, pusing, mudah mengantuk, penurunan kesadaran, dan tanda-tanda neurologis seperti ensefalitis akut. Jika merasakan gejala tersebut, segera periksa ke layanan medis untuk pemeriksaan RT-PCR. Dengan langkah pencegahan ini, masyarakat dapat lebih waspada terhadap risiko penyakit zoonotik.


