Ia juga mengkritik kebiasaan pelaku UMKM yang sering mengabaikan perhitungan biaya waktu kerja sendiri. Baginya, pemahaman struktur biaya yang sehat, mulai dari produksi hingga waktu personal, adalah kunci agar bisnis bisa berkelanjutan secara finansial.
Strategi ‘Storytelling’ dan Karakter Produk
Dalam sesi diskusi dengan pelaku usaha kuliner (F&B), Irene memberikan solusi konkret mengenai strategi promosi di ruang publik. Menanggapi kekhawatiran soal segmentasi pasar di festival budaya, ia menyarankan transparansi dan pendekatan naratif.
Baca Juga: Wamenekraf Irene Umar Bahas Inovasi Nyala Games Bersama IOTA Kreatif Media
“Karena kita berada di ruang publik seperti festival ini, dan yang disajikan memang 100 persen halal, sampaikan itu dengan jelas sebagai bentuk saling menghormati,” kata Irene. Ia mencontohkan produk seperti bakpao gandum yang bisa memiliki nilai jual lebih tinggi jika diberi karakter unik.
“Produk seperti bapau gandum yang dijual dapat dikembangkan melalui pendekatan IP, diberi karakter dan cerita. Jangan hanya menjual produknya, tetapi bangun narasinya. Orang lebih mudah mengingat storytelling dibandingkan spesifikasi,” ia menambahkan.
Menutup sesi, Wamen Ekraf mendorong para pelaku usaha untuk tidak berjalan sendiri. Ia mengajak para kreator memanfaatkan platform digital secara agresif dan membuka peluang kolaborasi antar-merek (co-branding) guna menciptakan produk yang memiliki potensi ekspor ke pasar internasional. (*)






