Dengan estimasi yang akurat, perusahaan dapat memastikan ketersediaan armada dan tenaga kerja tepat saat panen puncak tiba. “Kami dapat menghindari kehilangan momentum. Tidak ada keterlambatan tenaga, tidak ada kekurangan armada, dan tidak ada keputusan yang diambil tanpa dasar,” ujarnya.
Audit Ketat Berbasis Sistem SAP
Secara teknis, evaluasi akurasi dilakukan setiap semester dengan pembobotan ketat: 80 persen pada jumlah tandan, serta masing-masing 10 persen pada berat tandan rata-rata (BTR) dan volume TBS. Seluruh data realisasi ini ditarik langsung dari sistem SAP berdasarkan jumlah TBS yang diterima di pabrik.
Baca Juga: Ekonomi Hijau: PTPN IV PalmCo Bangun 16 Pabrik CBG, Target Serap 1.600 Tenaga Kerja Baru
Standar operasional ini, menurut Bambang, sejalan dengan arahan Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa, yang menekankan tiga pilar utama: validitas data, kepatuhan SOP, dan integritas operasional.
Manajemen telah menetapkan unit-unit dengan akurasi terbaik sebagai percontohan, sementara unit dengan deviasi di atas 10 persen akan mendapatkan pendampingan khusus pada 2026.
Transformasi ini menempatkan data sebagai fondasi utama untuk menjaga stabilitas pasokan sawit dari Bumi Lancang Kuning di tengah fluktuasi industri global. (*)






