URBANCITY.CO.ID – Lima geopark Indonesia mengukir prestasi bergengsi dunia dengan meraih predikat Green Card dari UNESCO dalam Sidang ke-11 Dewan UNESCO Global Geoparks di Paris, Prancis.
Belitong, Merangin Jambi, Ijen, Raja Ampat, dan Maros-Pangkep sukses membuktikan konsistensi tata kelola berbasis kelestarian lingkungan dan pemberdayaan komunitas.
Pada momentum yang sama, Bojonegoro resmi menyusul sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp) anyar, menegaskan positioning Indonesia sebagai episentrum ekowisata global.
Pencapaian internasional ini memperkuat daya saing pariwisata hijau Nusantara di mata investor maupun pelancong urban.
Baca Juga: Bantul dan Padang Masuk Nominasi UNESCO 2027, Buka Peluang Investasi Ekraf
Masyarakat perkotaan kini menempatkan wisata regeneratif—perjalanan berwawasan lingkungan yang memperkaya pengalaman batin dan memulihkan ekosistem—sebagai gaya hidup premium.
Masuknya status prestisius UGGp memantik lonjakan nilai ekonomi kawasan sekaligus membuka koridor pembiayaan hijau (green financing) untuk infrastruktur penunjang berkelanjutan.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (5/11/2026), mengapresiasi capaian tersebut.
Menurutnya, pengakuan UNESCO bukan sekadar penghargaan internasional, melainkan tanggung jawab bersama untuk memastikan kekayaan alam, geologi, dan budaya Indonesia tetap lestari serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Baca Juga: Menpar Widiyanti Tinjau Raja Ampat, Pastikan Kesiapan Revalidasi UNESCO Global Geopark
“Status geopark dunia harus dijaga melalui tata kelola yang kuat, konservasi yang nyata, dan pelibatan masyarakat lokal. Kita ingin keberadaan geopark tidak hanya menjadi kebanggaan Indonesia di tingkat dunia, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya,” kata Menteri Pariwisata Widiyanti.
Sementara itu, Geopark Ranah Minang Silokek mengantongi masa perbaikan dua tahun guna melengkapi seluruh parameter teknis Dewan UGGp.
Komersialisasi Terkendali Dongkrak Valuasi Wisata Berkelanjutan
Belitong UGGp mencuri perhatian dunia setelah sukses membalikkan status Yellow Card 2024 menjadi Green Card lewat perbaikan regulasi terukur.
Baca Juga: Widiyanti Putri Wardhana Pacu Revalidasi UNESCO Global Geopark: Targetkan Pengakuan Dunia 2026
Langkah taktis pemerintah daerah menghentikan komersialisasi Batu Satam serta memusatkan konservasi penyu di Pulau Cina mendapat pengakuan resmi dari UNESCO sebagai standar percontohan global.
Kebijakan ini justru mengerek nilai eksklusivitas Belitong sebagai surga liburan berkualitas bagi para profesional ibu kota yang mencari ketenangan alam murni.
Di Jawa Timur, Ijen UGGp mengoptimalkan 21 geosite unggulan, termasuk daya pikat fenomena blue fire dan danau kawah asam terbesar di dunia.
Reputasi global ini memicu pertumbuhan industri hospitalitas ramah lingkungan, mulai dari eco-resort berarsitektur lokal hingga paket geowisata terkurasi.
Baca Juga: Trump Umumkan Penarikan AS dari UNESCO, Sebut Organisasi Tidak Sejalan dengan Kepentingan Nasional
Lonjakan minat turis urban berdaya beli tinggi langsung menggerakkan roda ekonomi kreatif masyarakat Banyuwangi dan Bondowoso.
Kawasan Merangin Jambi UGGp seluas 4.832,31 kilometer persegi turut mempertahankan legitimasi Green Card berkat perlindungan fosil purba dan Kaldera Masurai.
Sinergi lintas otoritas daerah menyelesaikan isu tambang ilegal di sekitar Muara Karing secara terukur dan persuasif.
Penataan kawasan ini kian menjamin keamanan investasi wisata minat khusus, seperti arung jeram dan susur fosil karst bernilai edukasi tinggi.
Baca Juga: Lima Warisan Budaya Indonesia Resmi Diakui UNESCO sebagai Memori Dunia
Raja Ampat UGGp menuntaskan enam rekomendasi evaluasi secara komprehensif, termasuk penambahan empat geosite baru di Pulau Misool dan operasional Geological Information Center di Waisai.
Pelarangan total aktivitas tambang di dalam kawasan menjamin kemurnian ekosistem kepulauan karst Papua Barat Daya.
Komitmen proteksi ketat ini melipatgandakan valuasi Raja Ampat sebagai magnet wisata bahari kelas dunia yang sangat prestisius.
Maros-Pangkep UGGp di Sulawesi Selatan memperkuat bentang karst seluas 5.254,10 kilometer persegi dengan Master Plan mitigasi iklim 2025–2034 dan kolaborasi internasional bersama Jepang serta Thailand.
Baca Juga: UNESCO Akui Pabrik Indarung I Sebagai Warisan Memori Asia Pasifik
Pemasangan panel interpretasi modern di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin mempermudah akses informasi bagi para wisatawan bisnis dan pelancong perkotaan sejak mendarat.
Integrasi seni prasejarah dan ratusan gua karst menempatkan kawasan ini sebagai destinasi heritage premium.
Kemenpar Perkuat Ekosistem Amenitas dan Akses Transportasi Udara
Kementerian Pariwisata aktif mengawal penguatan infrastruktur dasar, amenitas, dan kapasitas sumber daya manusia di seluruh geopark prioritas.
Baca Juga: Elnusa Pacu UMKM Bojonegoro Tembus Pasar Digital Lewat Program PESONA
“Dukungan tersebut diwujudkan melalui sejumlah program strategis yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan,” ucap Menteri Pariwisata.
Kemenpar menggandeng maskapai Citilink untuk Belitong dan Batik Air menuju Merangin Jambi melalui landing announcement guna memperluas eksposur destinasi di kalangan penumpang pesawat.
Instansi ini juga menggelar lokakarya tata kelola terpadu, penyediaan papan keselamatan edukatif, pelatihan pemandu gunung bersertifikat, hingga forum internasional geoturisme bersama pakar Khorat UGGp Thailand.
Langkah konkret ini memastikan kesiapan fasilitas destinasi dalam menyambut pelancong yang mendambakan kenyamanan mobilitas tinggi.
Baca Juga: Dominasi Lapis Kedua Bhayangkara Presisi: Garuda Jaya Takluk Tiga Set Langsung di Bojonegoro
Di Maros-Pangkep, Kemenpar menghelat bimbingan teknis amenitas dan aksesibilitas bagi puluhan pegiat desa wisata, asosiasi bisnis, dan pemuda pengelola geosite.
Kemenpar juga menguji kelayakan fasilitas publik di Santuari Kupu-Kupu Bantimurung serta Taman Arkeologi Leang-Leang demi menggaransi standar kenyamanan wisatawan urban.
Di Raja Ampat, dukungan Kemenpar pada Pre-Event GEOFEST sukses mempertemukan komunitas adat, pameran geofood, dan pelaku industri pariwisata nasional.
Pengesahan UNESCO 2027 Pacu Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan
Baca Juga: Runtuhnya Keangkuhan Sang Pemuncak di Bojonegoro, Livin’ Mandiri Bikin Kejutan Besar
Dewan UGGp segera menerbitkan lembar rekomendasi resmi sebagai panduan teknis pengelolaan empat tahun ke depan.
Ijen dan Merangin Jambi berfokus pada pembenahan fasilitas publik serta integrasi koridor taman nasional.
Raja Ampat memprioritaskan proteksi geosite utama dan perluasan edukasi lingkungan, sementara Maros-Pangkep bersiap mengembangkan jalur geowisata bahari (marine geotrails) terpadu.
Dewan Eksekutif UNESCO menjadwalkan pengesahan final seluruh predikat Green Card serta status resmi UGGp Bojonegoro pada Sidang Musim Semi, April 2027.
Baca Juga: Dominasi Sempurna Sang Juara Bertahan di Bojonegoro, LavAni Terlalu Tangguh Untuk Samator
Momentum serah terima sertifikat dunia tersebut akan memperkuat kepastian iklim investasi pada sektor ekowisata Indonesia.
Pengakuan global ini mentransformasi potensi alam daerah menjadi aset ekonomi produktif yang inklusif bagi kesejahteraan warga setempat.
“Target kita adalah mempertahankan predikat Green Card sebagai bukti bahwa pengelolaan kawasan telah mampu menyeimbangkan aspek konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat. Karena itu, setiap rekomendasi UNESCO harus ditindaklanjuti melalui aksi nyata dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan,” kata Menteri Pariwisata.




