URBANCITY.CO.ID – Masyarakat perkotaan kian menempatkan proteksi kesehatan preventif sebagai fondasi produktivitas harian dan perlindungan gaya hidup keluarga modern.
Menjawab kebutuhan strategis ini, PT Bio Farma (Persero) mengumumkan rencana ekspansi fasilitas manufaktur masif dan lompatan teknologi bioteknologi pada ajang Danantara Technology Innovation and Investment Forum (DTIIF) 2026 di Fairmont, Jakarta.
Forum bergengsi bertema Investing in Tomorrow: Advancing Technology, Innovation, and Sustainable Growth tersebut mengumpulkan lebih dari 1.500 pelaku industri, investor global, dan peneliti papan atas.
Inisiatif hilirisasi ini membuka ruang kemitraan modal bernilai tinggi sekaligus memperkokoh kedaulatan sektor farmasi nasional dari hulu ke hilir.
Baca Juga: Inovasi Bio Farma di DTIIF 2026: Akselerasi Investasi Farmasi Urban
Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam sesi pleno From Laboratory to Industry: How Science Becomes Economic Capability.
Ia membedah ekosistem bioteknologi yang menuntut orkestrasi matang antara pembuat kebijakan, akademisi, investor pembiayaan jangka panjang, dan mitra global.
Integrasi menyeluruh ini memastikan hasil riset laboratorium bertransformasi menjadi aset ekonomi berkelanjutan yang langsung memberi proteksi riil kepada publik.
Hingga kini, perseroan memasok 13 dari 14 vaksin Program Imunisasi Nasional dengan distribusi melampaui 86 miliar dosis ke 153 negara.
Baca Juga: Bio Farma Raih Primaniyarta 2026: Bukti Cuan Ekspor Industri Medis
Megaproyek Bio Shield Nusantara Buka Peluang Investasi
Bio Farma mengusung proyek strategis bertajuk Bio Shield Nusantara untuk melipatgandakan daya gedor industri kesehatan nasional.
Melalui sesi Investor Showcase DTIIF 2026, manajemen memaparkan cetak biru pembangunan pusat manufaktur anyar berkapasitas 750 juta dosis di luar kota Bandung.
Pembangunan fasilitas modern ini dijadwalkan mulai mengalirkan pasokan komersial pada rentang 2029 hingga 2031 guna melayani lonjakan kebutuhan domestik maupun pasar ekspor.
Baca Juga: Borong Dua Penghargaan Nasional, Bio Farma Unjuk Gigi di Sektor Komunikasi dan CSR
“Untuk ekspansinya, kami akan mencoba mengembangkan fasilitas di luar Bandung. Posisi kami di Bandung saat ini sudah cukup padat karena berada di tengah kota, sehingga kami mencoba membuka lokasi dan fasilitas produksi baru,” ujar Dicky, Selasa (27/10).
Perseroan juga mengeksekusi proyek revitalisasi fasilitas Pasteur Bandung guna mendongkrak kapasitas Gedung 12 dan 43 sebesar 145 juta dosis serta Gedung 34 sebesar 7 juta dosis.
Lewat kombinasi proyek ini, manajemen membidik pemenuhan lebih dari 90 persen kebutuhan imunisasi nasional seraya memangkas impor produk strategis hingga separuhnya pada 2029.
Bio Farma pun mengundang kolaborasi permodalan institusional bersama Danantara dan konsorsium global untuk mempercepat pembangunan fasilitas deeptech tersebut.
Baca Juga: Diplomasi Vaksin di Islamabad: Upaya Bio Farma Memutus Ketergantungan Impor Negara Muslim
Integrasi Deeptech Jamin Kualitas Gaya Hidup Sehat Urban
Masyarakat urban yang dinamis memerlukan kepastian rantai pasok medis berstandar global tanpa celah kontaminasi.
Bio Farma menjawab ekspektasi tersebut lewat implementasi platform digital Medtrack yang memonitor distribusi vaksin secara real-time berbasis IoT.
Sistem cerdas ini mengawasi kestabilan suhu rantai dingin secara presisi guna menjamin efikasi formula tetap prima saat menjangkau konsumen akhir.
Baca Juga: Suntikan Mudik Gratis ala Bio Farma, Ringankan Beban Pemudik Lebaran 2026
Perseroan mengadopsi kecerdasan buatan (AI) guna mengakselerasi penemuan senyawa obat sekaligus memanfaatkan teknologi Virtual Reality (VR) dalam melatih tenaga ahli manufaktur berstandar tinggi.
Direktur Operasi Bio Farma, Iin Susanti, menyoroti urgensi rekayasa proses dalam sesi Deeptech for All: Innovation, Leadership and Inclusion.
Pendekatan komersialisasi ini menjamin inovasi sains segera turun ke pasar dan dinikmati konsumen perkotaan.
“Penelitian adalah langkah awal. Namun, penelitian yang tidak dapat diskalakan menjadi sebuah produk hanya akan tetap berada di laboratorium. Karena itu, dibutuhkan rekayasa proses dan komersialisasi,” ujar Iin.
Baca Juga: Bio Farma Dorong UMKM Kreatif Naik Kelas di INACRAFT 2026
Portofolio Vaksin Mutakhir Proteksi Generasi Masa Depan
Penguasaan sains Bio Farma telah membuahkan pengakuan internasional, termasuk sertifikasi prakualifikasi WHO untuk vaksin polio nOPV2 sejak 2023.
Komitmen transfer teknologi perseroan kini merambah Benua Afrika lewat kolaborasi strategis bersama mitra industri di Senegal dan Ghana. Keberhasilan ini kian melambungkan reputasi Indonesia dalam jajaran rantai pasok farmasi global.
Pencapaian perseroan mencapai puncaknya saat meraih penghargaan Biomedicine Innovation pada Innovation Award DTIIF 2026 berkat produk terobosan Bio RV.
Baca Juga: Bio Farma Bantu Korban Longsor Bandung Barat dengan Vaksin Tetanus dan Logistik
Formula vaksin rotavirus neonatal pertama di dunia ini menghadirkan benteng proteksi dini terhadap ancaman diare fatal pada bayi.
Temuan mutakhir ini memberi ketenangan ekstra bagi para orang tua modern yang menginginkan perlindungan maksimal bagi sang buah hati sejak hari pertama kelahiran.
“Keunggulannya, vaksin ini dapat memberikan perlindungan lebih dini kepada bayi sejak awal kelahiran, sehingga tidak perlu menunggu hingga usia sekitar dua bulan untuk mendapatkan vaksinasi,” papar Catur.
Ke depan, Bio Farma terus memperluas portofolio vaksin HPV, tifoid konjugat, heksavalen, dengue, platform mRNA, hingga terapi sel biosimilar.
Baca Juga: Punya Perhatian Khusus, Bio Farma Diganjar Halal Award 2024
Langkah inovasi ini menegaskan tekad perseroan mengawal gaya hidup sehat dan investasi kesejahteraan keluarga Indonesia.




