URBANCITY.C.ID – Sihir Gianyar di lantai JCC. Di salah satu sudut Jakarta Convention Center (JCC), aroma terapi dari Bali Ayu menyeruak, menghentikan langkah para pemburu kerajinan di ajang INACRAFT 2026.
Produk kesehatan dan aromaterapi milik Komang Yatik asal Gianyar ini tak sekadar menjadi pajangan. Ia adalah magnet bagi para buyer asing yang berkerumun sejak pameran dibuka pada 4 Februari lalu.
Bali Ayu hanyalah satu dari barisan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) binaan PT Pertamina (Persero) yang tengah berpesta pora di pameran kerajinan terbesar Tanah Air ini.
Hingga hari ketiga, Sabtu, 7 Februari 2026, catatan penjualannya bukan kaleng-kaleng: Rp7,5 miliar telah terkumpul. Angka ini terbelah hampir sama kuat antara transaksi ritel dan komitmen ekspor jangka panjang.
Komang Yatik sendiri tampak masih tak percaya melihat produknya laku keras di mata orang Eropa hingga Amerika Latin.
Baca Juga: Diplomasi Keranjang Belanja, Cara UMKM BISA Ekspor Menembus Sekat Pasar Global
“Saya tidak pernah membayangkan produk yang saya rintis dari Kramasan, Gianyar, Bali, bisa dipercaya dan diminati buyer dari berbagai negara,” ujarnya. Baginya, pendampingan Pertamina adalah kunci yang membuka gembok pasar global.
Dari Lilin Batok hingga Serat Alam
Daftar negara asal pembeli yang mampir ke stan Pertamina layaknya absen sidang PBB. Mulai dari Prancis, Belanda, Jepang, hingga Chili dan Argentina.
Tak sekadar membeli satuan, para pemborong ini datang dengan niat kerja sama berkelanjutan. Seorang pemilik gerai suvenir dari Prancis, misalnya, langsung menyodorkan kontrak pemesanan skala besar.




