URBANCITY.CO.ID – Di era ketika jempol bisa lebih tajam dari kebijakan resmi, PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Nonpetikemas) tak ingin reputasinya karam karena blunder komunikasi.
Menyadari setiap pekerjanya adalah etalase berjalan, anak usaha Pelindo ini meluncurkan inisiatif Strengthening Communication: One Voice, One PTP.
Upaya menyelaraskan frekuensi komunikasi ini bukan tanpa alasan. Di tengah kompetisi kepelabuhanan yang kian sengit, batas antara opini pribadi karyawan dan sikap institusi di media sosial kian kabur.
Selama tiga hari, 9–11 Februari lalu, perusahaan mengumpulkan para pekerjanya dalam pelatihan komunikasi dan pembentukan “DigiWarrior” di Jakarta.
Direktur Utama PTP Nonpetikemas, Indra Hidayat Sani, menekankan bahwa citra perusahaan adalah akumulasi dari perilaku kolektif.
Baca Juga: Adu Cepat di Dermaga Logistik, Pelindo Targetkan 13,77 Juta TEUs di 2026
“One Voice, One PTP bukan berarti menyeragamkan pandangan, melainkan menyatukan nilai dan sikap. Setiap pernyataan dan perilaku insan perusahaan berkontribusi langsung terhadap citra PTP Nonpetikemas,” ujar Indra.
Bagi Indra, media sosial adalah pedang bermata dua: sarana strategis sekaligus ladang ranjau reputasi. Lewat DigiWarrior, PTP Nonpetikemas mencoba mencetak penjaga narasi yang tak sekadar piawai membuat konten, tapi juga tangkas mengelola isu digital.
Mereka dipasang sebagai garda terdepan untuk memastikan informasi yang beredar tetap akurat dan profesional.
Pesan Indra kepada anak buahnya cukup lugas: setiap unggahan memiliki dampak. “Saya ingin menekankan bahwa setiap kita adalah wajah dari perusahaan. Maka, mari tetap bijak dalam bermedia sosial,” tambahnya.




